Perang Dagang AS-China: Tarif Chip dan Elektronik Picu Perubahan Strategi
Bisnis
Ekonomi Makro
02 Mei 2025
56 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Perang dagang antara AS dan China menyebabkan perubahan kebijakan di kedua negara.
China berusaha meningkatkan produksi chip lokal untuk mengurangi ketergantungan pada AS.
Tarif yang diterapkan oleh kedua negara menunjukkan dampak signifikan terhadap industri otomotif dan teknologi.
Pengumuman tarif bea masuk dari Presiden Donald Trump memicu gejolak baru antara Amerika Serikat (AS) dan China. Kedua negara saling menerapkan tarif lebih dari 100% untuk barang impor masing-masing, yang menimbulkan titik kelemahan bagi negara yang bergantung pada negara lawan.
Presiden China Xi Jinping memutuskan untuk membebaskan 8 kategori chip buatan AS dari beban tarif 125% setelah adanya lobi dari sejumlah produsen mobil China. Namun, China tetap memastikan bahwa seperempat chip kendaraan tersebut harus dibuat di China mulai tahun ini, meskipun target ini dianggap sulit dicapai.
Di sisi lain, pemerintah AS mengumumkan bahwa tarif resiprokal 145% untuk barang impor dari China tidak berlaku untuk barang elektronik, termasuk iPhone. Hal ini karena banyak barang elektronik tersebut masih diproduksi di pabrikan China, meskipun Washington menekankan akan menyiapkan skema tarif khusus yang akan diumumkan beberapa pekan mendatang.
Analisis Ahli
Ekonom Senior Zhang Wei
Langkah China membebaskan tarif chip adalah strategi cerdas untuk menjaga kestabilan industri otomotif sekaligus memaksimalkan peluang kerja sama dengan produsen chip global.Analis Perdagangan Internasional Lisa Chen
Tarif tinggi membuat perusahaan di kedua negara harus mencari solusi kreatif, sementara target produksi chip lokal China akan menjadi tantangan besar secara teknis dan logistik.

