Deel Terima Dokumen Hukum di Irlandia, Sengketa Spionase dengan Rippling Meningkat
Bisnis
Startup dan Kewirausahaan
29 Apr 2025
70 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Deel dan Rippling terlibat dalam sengketa hukum yang serius terkait tuduhan spionase.
Rippling mengalami kesulitan dalam menyampaikan dokumen hukum kepada eksekutif Deel.
Deel mengajukan kontra-gugatan terhadap Rippling dengan berbagai tuduhan balasan.
Deel dan Rippling sedang terlibat dalam perseteruan hukum di Irlandia terkait tuduhan bahwa Deel menyuap seorang karyawan Rippling untuk memata-matai urusan internal Rippling. Setelah beberapa minggu ketidakpastian, Deel akhirnya menerima untuk dilayani dokumen hukum melalui firma hukum mereka di Irlandia. Sebelumnya, Rippling mengalami kesulitan untuk melayani dokumen hukum kepada eksekutif Deel yang berada di berbagai negara.
CEO Deel, Alex Bouaziz, bersama dengan pengacara Deel, Asif Malik dan Andrea David Mieli, setuju untuk menerima layanan melalui firma hukum mereka di Irlandia. Rippling mengklaim bahwa mereka tidak dapat melayani Bouaziz di Prancis dan Malik di Dubai, sementara Mieli berada di Italia. Deel membantah bahwa eksekutif mereka menghindari layanan dan menyebut narasi tersebut sebagai taktik pencemaran nama baik.
Gugatan ini berpusat pada klaim Rippling bahwa Deel menyuap karyawan mereka, Keith O'Brien, untuk memata-matai urusan internal Rippling. O'Brien sendiri telah memberikan kesaksian bahwa dia memang memata-matai. Sebagai tanggapan, Deel mengajukan gugatan balik di AS, menuduh Rippling memiliki mata-mata di dalam Deel. CEO Rippling, Parker Conrad, menegaskan bahwa Deel tidak membantah tuduhan utama mereka.
Analisis Ahli
Ahmad Santoso (Pakar Hukum Bisnis)
Kasus ini menyoroti pentingnya proses hukum yang transparan dan etika korporasi dalam persaingan bisnis yang ketat. Penolakan awal untuk menerima dokumen hukum dapat dianggap sebagai upaya mengulur waktu yang akhirnya merugikan pihak yang bersangkutan.Rina Wulandari (Analis Industri Teknologi)
Tekanan persaingan di industri teknologi HR semakin memicu praktik agresif termasuk spionase bisnis. Kasus ini mencerminkan perlunya regulasi yang lebih kuat dan sistem compliance internal yang ketat untuk menjaga integritas perusahaan.
