AbbVie Naikkan Target Laba 2025 Berkat Obat Immunologi Baru Meski Hadapi Tarif AS
Finansial
Investasi dan Pasar Modal
25 Apr 2025
216 dibaca
1 menit
Rangkuman 15 Detik
AbbVie mengalami penurunan penjualan Humira yang signifikan karena kompetisi dari biosimilar.
Obat baru Skyrizi dan Rinvoq menunjukkan kinerja penjualan yang kuat dan diharapkan dapat menggantikan penurunan dari Humira.
Kebijakan tarif yang diusulkan oleh pemerintah AS dapat berdampak negatif pada biaya operasional perusahaan farmasi.
AbbVie meningkatkan perkiraan laba tahun 2025 setelah penjualan kuat dari obat imunologi baru mereka, Skyrizi dan Rinvoq, membantu perusahaan mengalahkan perkiraan laba kuartal pertama Wall Street. Namun, saham AbbVie dan perusahaan obat besar lainnya telah anjlok karena kekhawatiran investor terkait penyelidikan sektor ini dan kemungkinan tarif AS pada industri farmasi.
Penjualan global Humira, obat andalan AbbVie untuk arthritis, turun setengah dari tahun lalu menjadi Rp 18.70 triliun ($1,12 miliar) pada kuartal pertama, jauh di bawah perkiraan Rp 22.04 triliun ($1,32 miliar) . Ini menandai kuartal ketiga berturut-turut di mana penjualan Humira meleset dari ekspektasi karena persaingan dari lebih dari selusin biosimilar yang lebih murah.
AbbVie kini mendorong Skyrizi dan Rinvoq untuk mengimbangi penurunan penjualan Humira dan memperkirakan kedua obat baru ini akan menghasilkan lebih dari Rp 517.70 triliun ($31 miliar) pada tahun 2027. Skyrizi mencatat penjualan sebesar Rp 57.28 triliun ($3,43 miliar) , mengalahkan perkiraan Wall Street sebesar Rp 52.60 triliun ($3,15 miliar) , sementara penjualan Rinvoq sebesar Rp 28.72 triliun ($1,72 miliar) juga melampaui perkiraan sebesar Rp 26.55 triliun ($1,59 miliar) .
Analisis Ahli
Anupam Sinha (Pharma Industry Analyst)
Strategi AbbVie memperkuat lini produk imunologi dan mengabaikan risiko tarif adalah langkah agresif yang bisa berbuah baik jika inovasi tetap konsisten, namun volatilitas politik perdagangan bisa menjadi penghambat utama.