China Tegaskan Regulasi Ketat Setelah Kecelakaan Xiaomi Terkait Mobil Otonom
Teknologi
Kendaraan Listrik dan Baterai
17 Apr 2025
149 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Regulasi yang lebih ketat diperlukan untuk pengembangan teknologi kendaraan otonom di Tiongkok.
Kecelakaan fatal dapat memicu tindakan pemerintah untuk meningkatkan keselamatan di jalan.
Produsen kendaraan listrik harus transparan mengenai kemampuan teknologi mereka untuk menghindari kesalahpahaman.
China telah mengambil langkah tegas untuk mengawasi uji coba sistem bantuan pengemudi di jalanan serta klaim pemasaran tentang teknologi tersebut. Langkah ini diambil setelah kecelakaan fatal yang melibatkan kendaraan listrik Xiaomi yang menewaskan tiga orang bulan lalu. Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT) mengadakan konferensi dengan 60 perusahaan untuk mendesak mereka mematuhi peraturan yang ada.
MIIT menekankan bahwa perusahaan dilarang melakukan pengujian massal teknologi mengemudi otonom tanpa persetujuan dari otoritas terkait. Selain itu, perusahaan juga tidak diizinkan melakukan pembaruan perangkat lunak over-the-air (OTA) tanpa persetujuan resmi. Langkah ini dianggap perlu untuk mengatur pasar dan memastikan keselamatan pengguna jalan.
Phate Zhang, pendiri penyedia data EV yang berbasis di Shanghai, CnEVPost, menyatakan bahwa pengujian sistem navigasi-otomatis (NOA) yang merajalela membawa risiko tinggi karena sebagian besar pengemudi masih belum menyadari dasar-dasar mengemudi otonom. Sebelum kecelakaan, regulasi penggunaan sistem NOA longgar karena kesalahpahaman bahwa teknologi tersebut sudah matang.
Analisis Ahli
Phate Zhang
Regulasi yang lebih tegas memang diperlukan karena banyak pengemudi belum memahami cara kerja sistem otonom sehingga rawan risiko kecelakaan.

