Kecelakaan Fatal Dorong Penggunaan Sensor Lidar Lebih Luas untuk Mobil Otonom
Teknologi
Kendaraan Listrik dan Baterai
03 Apr 2025
69 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Kecelakaan mobil otonom dapat meningkatkan permintaan untuk teknologi lidar.
Xiaomi sedang menghadapi tantangan terkait keselamatan setelah kecelakaan SU7.
Sistem bantuan pengemudi yang ada saat ini masih memerlukan pengemudi manusia untuk tetap waspada.
Adopsi sensor lidar berbasis laser diperkirakan akan meningkat seiring dengan permintaan konsumen akan sistem mengemudi otomatis yang lebih aman. Perusahaan lidar terkemuka di China, Hesai Group dan RoboSense Technology, diharapkan mendapatkan keuntungan setelah terjadinya kecelakaan fatal yang melibatkan mobil otonom. Kecelakaan ini membuat konsumen lebih sadar akan teknologi lidar, yang digunakan dalam mobil listrik (EV) kelas atas untuk meningkatkan keselamatan.
Kecelakaan yang terjadi di provinsi Anhui, China, melibatkan mobil Xiaomi SU7 yang menggunakan kamera sebagai sensor, yang dianggap lebih rentan terhadap kesalahan akibat bayangan atau cuaca buruk. Mobil tersebut melaju dengan kecepatan 116 km/jam dan sistem bantuan pengemudi diaktifkan, tetapi pengemudi diberi peringatan untuk mengambil alih dua detik sebelum mobil menabrak penghalang beton. Xiaomi, sebagai pembuat mobil, sedang membantu penyelidikan polisi terkait kecelakaan ini.
Model SU7 yang lebih mahal, yaitu Pro dan Max, dilengkapi dengan sensor lidar dari Hesai, sementara versi dasar tidak memiliki teknologi tersebut. Para analis percaya bahwa kecelakaan ini akan mendorong lebih banyak produsen mobil untuk menggunakan lidar, sehingga meningkatkan keselamatan dan kepercayaan konsumen terhadap mobil otonom di masa depan.
Analisis Ahli
Chen Jinzhu
Kecelakaan ini pasti akan mempercepat penerimaan luas teknologi lidar di dalam mobil, terutama pada kendaraan listrik dengan sistem bantuan pengemudi.

