Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Fasilitas PMR Freeport di Gresik Resmi Beroperasi, Targetkan 60 Ton Emas Setahun

Finansial
Investasi dan Pasar Modal
investment-and-capital-markets (12mo ago) investment-and-capital-markets (12mo ago)
25 Mar 2025
22 dibaca
1 menit
Fasilitas PMR Freeport di Gresik Resmi Beroperasi, Targetkan 60 Ton Emas Setahun

Rangkuman 15 Detik

Pabrik pengolahan emas PT Freeport Indonesia di Gresik merupakan yang terbesar di Indonesia.
Investasi emas dianggap sebagai pilihan yang stabil dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu.
PT Freeport Indonesia telah menjalin kontrak penjualan emas dengan PT Aneka Tambang Tbk untuk mendukung pasar dalam negeri.
Pemerintah Indonesia baru saja meresmikan pabrik pengolahan emas terbesar di Indonesia yang bernama Precious Metal Refinery (PMR) milik PT Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur. Pabrik ini diperkirakan dapat memproduksi 50-60 ton emas batangan setiap tahun. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyebutkan bahwa PT Freeport telah menjalin kontrak penjualan dengan PT Aneka Tambang Tbk untuk 30 ton emas per tahun, dan sisanya akan diprioritaskan untuk pasar dalam negeri. Investasi untuk pabrik ini mencapai sekitar 630 juta dolar AS atau setara dengan 10 triliun rupiah. PMR ini juga merupakan bagian dari smelter konsentrat tembaga yang terbesar di dunia. Bahlil menekankan bahwa emas yang dihasilkan dari pabrik ini sudah memiliki sertifikat internasional, sehingga masyarakat tidak perlu ragu untuk berinvestasi di bidang emas. Sebanyak 125 kilogram emas batangan dengan kemurnian 99,99% telah dikirimkan kepada PT Aneka Tambang pada bulan Februari 2025.

Analisis Ahli

Prof. Bambang Suryadi, Ekonom Sumber Daya Alam
Peresmian PMR ini sangat penting untuk meningkatkan nilai tambah pertambangan Indonesia yang selama ini mayoritas hanya mengekspor bahan mentah. Selain itu, keberadaan fasilitas seperti ini akan menciptakan efek domino bagi sektor industri pengolahan dan investasi domestik.
Dr. Anita Kartini, Pakar Pertambangan
Investasi dalam infrastruktur hilirisasi logam mulia seperti PMR memastikan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi produsen bahan tambang tetapi juga produsen produk bernilai tinggi. Hal ini akan meningkatkan daya saing dan mengurangi ketergantungan pada impor emas dan logam mulia.