Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Perang Dagang Trump Picu Koreksi Besar Saham AS dan Tekanan Pasar Asia

Bisnis
Ekonomi Makro
macro-economics (1y ago) macro-economics (1y ago)
14 Mar 2025
184 dibaca
1 menit
Perang Dagang Trump Picu Koreksi Besar Saham AS dan Tekanan Pasar Asia

Rangkuman 15 Detik

Ketidakpastian akibat perang dagang Trump berdampak signifikan pada pasar saham global.
Meskipun ada penurunan, beberapa analis percaya bahwa pasar mungkin terlalu bereaksi terhadap risiko resesi.
Data ekonomi yang akan datang dapat memberikan wawasan lebih lanjut tentang kesehatan ekonomi dan pasar keuangan.
Pasar saham Asia mengalami tekanan turun pada hari Jumat setelah saham AS jatuh, dipicu oleh perang dagang yang dilakukan oleh Presiden AS, Donald Trump. Indeks S&P 500 turun 1,4% ke level terendah dalam enam bulan, dan Nasdaq 100 juga mengalami penurunan. Meskipun demikian, pasar saham Hong Kong menunjukkan sedikit kenaikan. Penurunan ini menyebabkan kerugian besar di pasar saham AS, dengan total kerugian mencapai Rp 83.50 quadriliun ($5 triliun) . Banyak investor khawatir tentang ketidakpastian tarif yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, mantan Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan bahwa penurunan pasar saat ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan dan mungkin merupakan hal yang wajar. Sementara itu, pasar obligasi menunjukkan tanda-tanda resesi, tetapi ada harapan bahwa pasar saham bisa pulih. Harga minyak juga turun, sementara harga emas mencapai rekor tertinggi karena ketegangan perdagangan yang mendorong orang untuk membeli aset yang lebih aman.

Analisis Ahli

Adam Turnquist
Tarif impor menjadi penyebab utama tekanan jual pasar yang juga memperparah kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi.
Steven Mnuchin
Koreksi pasar 5-10% adalah hal yang wajar karena pasar sebelumnya sudah terlalu tinggi, dan tidak perlu panik.
Gina Martin Adams
Model resesi berbasis Treasury menunjukkan hampir 30% risiko resesi dalam setahun ke depan yang harus diperhitungkan.
Nikolaos Panigirtzoglou
Pasar saham saat ini menilai risiko resesi lebih tinggi daripada pasar kredit sehingga ada peluang positif jika kredit yang benar.