Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Data Tata Technologies Bocor Usai Serangan Ransomware dari Hunters International

Teknologi
Keamanan Siber
cyber-security (1y ago) cyber-security (1y ago)
12 Mar 2025
231 dibaca
1 menit
Data Tata Technologies Bocor Usai Serangan Ransomware dari Hunters International

Rangkuman 15 Detik

Hunters International adalah kelompok ransomware baru yang telah membocorkan data dari Tata Technologies.
Tata Technologies mengalami serangan ransomware yang mempengaruhi beberapa aset IT mereka.
Data yang bocor mencakup informasi pribadi dan dokumen penting perusahaan.
Sebuah kelompok ransomware bernama Hunters International telah mempublikasikan data yang mereka klaim dicuri dari Tata Technologies, setelah perusahaan India tersebut mengonfirmasi serangan ransomware yang mengakibatkan beberapa layanan dihentikan. Data yang bocor ini mencakup informasi pribadi tentang karyawan saat ini dan mantan karyawan Tata Technologies, serta informasi rahasia seperti pesanan pembelian dan kontrak perusahaan dengan pelanggan di India dan Amerika Serikat. Total data yang dibocorkan mencapai lebih dari 730.000 dokumen dengan ukuran sekitar 1,4 terabyte. Tata Technologies, yang didirikan pada tahun 1989 dan merupakan anak perusahaan dari Tata Group, memberikan layanan rekayasa produk dan penelitian untuk industri otomotif dan aerospace di 27 negara. Hunters International adalah kelompok ransomware baru yang muncul pada akhir tahun 2023, yang menyewakan infrastruktur mereka kepada peretas lain untuk melakukan serangan ransomware. Mereka juga memiliki hubungan dengan kelompok ransomware lain bernama Hive, yang sebelumnya membocorkan data dari perusahaan Tata lainnya, Tata Power, pada tahun 2022.

Analisis Ahli

Brian Krebs (Investigative Journalist)
Insiden ini menyoroti bagaimana kelompok ransomware baru masih bisa mengeksploitasi celah keamanan bahkan di perusahaan besar, yang menunjukkan kebutuhan mendesak akan pendekatan keamanan siber yang dinamis dan responsif.
Bruce Schneier (Cybersecurity Expert)
Kolaborasi antara kelompok ransomware dengan model-as-a-service meningkatkan skala ancaman, memaksa perusahaan untuk berinvestasi lebih banyak pada deteksi dini dan pelatihan kesadaran siber karyawan.