Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Serangan Siber Besar di NTT Com: Data 18.000 Perusahaan Bocor di Februari

Teknologi
Keamanan Siber
News Publisher
07 Mar 2025
66 dibaca
1 menit
Serangan Siber Besar di NTT Com: Data 18.000 Perusahaan Bocor di Februari

AI summary

Pelanggaran data NTT Com mengungkapkan kerentanan dalam keamanan siber perusahaan telekomunikasi.
Informasi pribadi dari hampir 18.000 pelanggan korporat telah dicuri, menunjukkan risiko besar bagi individu dan organisasi.
Serangan siber terhadap penyedia telekomunikasi semakin meningkat, menyoroti pentingnya keamanan data.
Perusahaan telekomunikasi Jepang, NTT Communications (NTT Com), mengonfirmasi bahwa peretas telah mengakses data hampir 18.000 pelanggan korporat dalam serangan siber yang terjadi pada bulan Februari. Data yang dicuri mencakup nama pelanggan, nomor kontrak, nomor telepon, alamat email, alamat fisik, dan informasi penggunaan layanan dari 17.891 organisasi. NTT Com menemukan pelanggaran data ini pada 5 Februari dan segera membatasi akses ke sistem yang terkompromi. Namun, pada 15 Februari, mereka menemukan bahwa peretas juga telah mengakses perangkat lain di jaringan internal mereka.Hingga saat ini, belum diketahui siapa yang bertanggung jawab atas serangan ini, dan tidak ada kelompok peretas besar yang mengklaim serangan tersebut. Perusahaan telekomunikasi menjadi target utama bagi peretas, termasuk kelompok yang diduga terkait dengan negara. Serangan ini menunjukkan pentingnya keamanan data, terutama bagi perusahaan yang memiliki banyak pelanggan.

Experts Analysis

Bruce Schneier
Serangan pada infrastruktur telekomunikasi merupakan ancaman nasional yang serius; perusahaan harus mengadopsi keamanan berlapis dan transparan terhadap klien untuk meminimalisir risiko.
Mikko Hypponen
Fakta bahwa pelaku belum teridentifikasi menunjukkan operasi tingkat tinggi dan canggih, menegaskan pentingnya kolaborasi global dalam keamanan siber sektor telekomunikasi.
Editorial Note
Serangan ini seharusnya menjadi peringatan serius bahwa perusahaan telekomunikasi besar pun masih rentan terhadap serangan siber yang canggih. Keterlambatan dalam mengidentifikasi dan mengatasi perangkat yang disusupi menunjukkan kebutuhan memperbaiki deteksi dini dan respons insiden secara drastis.
Baca Berita Lebih Cepat,Lebih Cerdas
Rangkuman berita terkini yang dipersonalisasi untukmu — tanpa perlu baca panjang lebar.