DeepSeek: Revolusi AI China Melawan Dominasi Chip AS dengan Inovasi dan Open-Source
Teknologi
Kecerdasan Buatan
07 Feb 2025
193 dibaca
2 menit

DeepSeek adalah perusahaan teknologi asal China yang baru-baru ini membuat gebrakan dalam dunia kecerdasan buatan (AI) dengan menciptakan model AI yang dapat bersaing dengan produk-produk besar dari perusahaan seperti OpenAI dan Google, tetapi dengan biaya yang jauh lebih rendah. Mereka berhasil mencapai performa setara ChatGPT-4o dengan menggunakan 2.048 unit pemrosesan grafis (GPU) Nvidia H800, dan biaya pelatihannya hanya sekitar Rp 91.85 miliar ($5,5 juta) . Inovasi yang dilakukan DeepSeek, seperti penggunaan model campuran (Mixture of Experts) dan pelatihan presisi campuran (FP8), memungkinkan mereka untuk mengurangi kebutuhan komputasi dan meningkatkan efisiensi, meskipun mereka menghadapi sanksi dari AS yang membatasi akses ke chip canggih.
Keberhasilan DeepSeek juga menunjukkan bahwa China dapat mengembangkan teknologi AI meskipun ada kendala dari luar. Mereka mengadopsi pendekatan open-source, yang memungkinkan pengembang lain untuk menggunakan dan memodifikasi teknologi mereka secara bebas. Ini mendorong kolaborasi dan inovasi di kalangan pengembang AI di China. Namun, keberhasilan ini juga diiringi dengan tantangan, seperti serangan siber yang mengancam keamanan teknologi mereka dan potensi sanksi lebih lanjut dari AS. Dengan kemitraan baru dengan Huawei, DeepSeek berusaha menciptakan ekosistem yang dapat bersaing dengan dominasi teknologi AS, dan ini bisa menjadi titik balik dalam persaingan AI antara kedua negara.
Analisis Ahli
Aravind Srinivas
Penggunaan FP8 mixed-precision oleh DeepSeek adalah terobosan yang dikarenakan keterbatasan sumber daya, dan ini bisa menjadi model yang lebih hemat energi bagi industri AI secara umum.Sam Altman
OpenAI mengakui perlu strategi open-source yang lebih baik setelah kemunculan DeepSeek, menandakan perubahan signifikan dalam pendekatan pengembangan AI.
