Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Tarif Baru Trump Picu Kecemasan Pasar Saham Asia dan Penguatan Dolar

Bisnis
Ekonomi Makro
News Publisher
28 Feb 2025
155 dibaca
1 menit
Tarif Baru Trump Picu Kecemasan Pasar Saham Asia dan Penguatan Dolar

AI summary

Kebijakan tarif baru dapat memicu ketidakpastian di pasar global.
Investor cenderung menghindari risiko di tengah ketegangan perdagangan.
Data inflasi PCE akan menjadi indikator penting untuk kebijakan ekonomi mendatang.
Pasar saham global mengalami penurunan yang signifikan, terutama di Asia, setelah Presiden Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif impor. Tarif baru sebesar 25% akan dikenakan pada Kanada dan Meksiko, serta tambahan 10% untuk barang-barang dari China. Hal ini membuat investor khawatir akan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi, sehingga mereka mulai menjauh dari investasi berisiko. Saham teknologi, termasuk Nvidia, mengalami penurunan yang tajam, dan Bitcoin juga turun.Sementara itu, nilai dolar AS menguat terhadap mata uang lainnya, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS turun. Di Jepang, inflasi melambat lebih dari yang diperkirakan, tetapi tidak mengubah rencana bank sentral untuk menaikkan suku bunga. Di Indonesia, nilai rupiah jatuh ke level terendah sejak April 2020, dan indeks saham utama negara tersebut juga mengalami penurunan. Para ekonom memperkirakan inflasi di AS akan melambat, yang bisa mempengaruhi keputusan Federal Reserve ke depannya.

Experts Analysis

Jun Rong Yeap
Pasar belum yakin apakah kenaikan tarif ini merupakan taktik negosiasi atau keputusan tetap, sehingga investor enggan mengambil risiko lebih besar.
Billy Leung
Tarif tambahan 10% pada impor China memperpanjang ketidakpastian dan kemungkinan menciptakan pola ketegangan yang berulang.
Charu Chanana
Tarif memang menimbulkan risiko jangka pendek, tetapi dukungan dari teknologi dan kemungkinan stimulus China dapat menahan momentum pasar.
Editorial Note
Kebijakan tarif Trump yang terus berubah hanya menambah ketidakpastian dan memperburuk sentimen pasar yang sudah lunglai. Investor harus bersiap menghadapi fluktuasi tajam dalam jangka pendek, meskipun stimulus dari China mungkin menahan penurunan lebih dalam.
Baca Berita Lebih Cepat,Lebih Cerdas
Rangkuman berita terkini yang dipersonalisasi untukmu — tanpa perlu baca panjang lebar.