AI summary
Republik Demokratik Kongo berusaha mengendalikan pasokan kobalt untuk meningkatkan harga. Larangan ekspor kobalt sementara mungkin tidak cukup untuk mempengaruhi pasar secara signifikan. CMOC Group terus meningkatkan produksi kobalt meskipun ada larangan ekspor yang diberlakukan. Republik Demokratik Kongo, sebagai pemasok utama kobalt, sedang mempertimbangkan untuk memperkenalkan kuota ekspor kobalt untuk mengurangi kelebihan pasokan dan meningkatkan harga. Harga kobalt saat ini sangat rendah karena permintaan dari produsen mobil menurun, sementara produksi tembaga, yang juga menghasilkan kobalt sebagai produk sampingan, meningkat. Kongo baru saja melarang semua ekspor kobalt selama empat bulan untuk mengatasi masalah ini, dan rencana untuk menetapkan kuota ekspor sedang dibahas oleh pemerintah.Meskipun larangan sementara ini mungkin dapat meningkatkan harga dalam jangka pendek, para analis percaya bahwa dampaknya tidak akan bertahan lama karena perusahaan-perusahaan tambang akan terus menyimpan kobalt. Beberapa perusahaan tambang besar, seperti CMOC, telah meningkatkan produksi kobalt mereka, dan larangan ini tidak akan mempengaruhi operasi mereka. Harga kobalt di pasar telah turun drastis dari puncaknya, dan para analis memperkirakan bahwa kontrol pasokan lebih lanjut akan diperlukan di masa depan.
Langkah pemerintah Kongo untuk membatasi ekspor kobalt memang strategis mengingat posisi mereka sebagai pemasok utama dunia, namun efektivitasnya tetap dipertanyakan mengingat perusahaan tambang besar belum sepenuhnya patuh. Jika kuota diterapkan dengan tegas, hal ini bisa memicu kenaikan harga kobalt yang berdampak positif bagi ekonomi Kongo, tetapi juga berisiko mengganggu industri baterai dan otomotif global.