AI summary
Perusahaan besar seperti Citigroup dan PepsiCo mulai mengurangi program keberagaman dan inklusi. Keputusan Mahkamah Agung AS mempengaruhi kebijakan DEI di banyak organisasi. Ada peningkatan kritik terhadap kebijakan DEI dari aktivis dan perubahan dalam administrasi pemerintah. Minggu ini, Citigroup dan PepsiCo mengumumkan pengurangan program keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI) mereka. CEO Citigroup, Jane Frasier, menyatakan bahwa perusahaan tidak lagi mewajibkan perekrutan dari kelompok pelamar yang beragam. Sementara itu, CEO PepsiCo, Ramon Laguarta, mengumumkan bahwa mereka akan menghapus posisi petugas DEI dan menghentikan tujuan representasi tenaga kerja DEI. Kedua perusahaan ini mengikuti langkah perusahaan besar lainnya seperti Meta, Walmart, dan McDonald's yang juga mengurangi fokus pada DEI.Perubahan ini terjadi setelah keputusan Mahkamah Agung AS yang menolak program penerimaan yang memperhatikan ras di universitas, serta perintah eksekutif dari mantan Presiden Donald Trump yang menghentikan program DEI di pemerintah federal. Beberapa bank besar, seperti JPMorgan Chase, juga mengurangi penyebutan DEI dalam laporan tahunan mereka. CEO JPMorgan, Jamie Dimon, mengakui bahwa perubahan hukum mempengaruhi program DEI dan menyatakan bahwa dia tidak percaya pada pelatihan bias serta ingin mengurangi pengeluaran yang tidak perlu.
Penurunan dukungan terhadap program DEI ini menunjukkan tekanan politik dan hukum yang kuat memengaruhi keputusan korporasi, yang berpotensi menghambat kemajuan keberagaman dan inklusi yang telah dibangun selama ini. Namun, beberapa perubahan ini juga menandakan perlunya perusahaan untuk merancang strategi inklusif yang lebih adaptif dan efektif tanpa terjebak dalam birokrasi yang mahal dan kurang berdampak.