Suku Bunga Tinggi Jadi Tantangan Terbesar Masa Jabatan Kedua Trump
Finansial
Kebijakan Fiskal
14 Feb 2025
278 dibaca
1 menit
Rangkuman 15 Detik
Donald Trump menghadapi tantangan dalam mengendalikan suku bunga selama masa jabatannya.
Inflasi yang tinggi dapat mempengaruhi keputusan ekonomi dan kebijakan tarif Trump.
Federal Reserve tetap independen dan tidak terpengaruh oleh tekanan politik dari Trump.
Setelah tiga minggu menjabat sebagai presiden untuk kedua kalinya, Donald Trump berhasil dalam banyak hal seperti memilih anggota kabinet dan menerapkan pemotongan pajak. Namun, satu hal yang tidak berjalan sesuai rencana adalah suku bunga yang tinggi. Trump merasa frustrasi dan berpendapat bahwa suku bunga seharusnya diturunkan, terutama untuk membantu ekonomi. Meskipun Trump ingin mengendalikan suku bunga, pasar keuangan tidak dapat dipaksa untuk mengikuti keinginannya, dan suku bunga jangka panjang tetap tinggi karena kekhawatiran inflasi di masa depan.
Inflasi bisa meningkat karena harga barang-barang penting seperti perumahan dan makanan tetap tinggi. Selain itu, tarif yang diterapkan Trump pada barang impor dapat menyebabkan harga naik lebih tinggi dari biasanya. Meskipun Trump berharap untuk menurunkan suku bunga, banyak analis khawatir bahwa jika suku bunga tetap tinggi, hal ini dapat mempengaruhi pinjaman dan ekonomi secara keseluruhan. Jika negara lain merespons tarif Trump dengan menjual utang AS, suku bunga bisa naik lebih tinggi lagi, yang akan menyulitkan banyak orang.
Analisis Ahli
Jaret Seiberg
Mewaspadai kemungkinan pemerintah memberikan otoritas yang lebih besar dalam mengatur suku bunga hingga batas maksimum (usury) yang bisa berdampak negatif pada perbankan.Peter Orszag
Negara-negara pemegang utang AS bisa menggunakan pasar obligasi sebagai alat balasan ekonomi dan mendorong suku bunga AS lebih tinggi sebagai efek perang tarif.