Sebuah panel penasihat pemerintah AS baru-baru ini membahas kemampuan China dalam mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dapat mengubah dunia, khususnya dalam bidang kecerdasan umum buatan (AGI). Dalam pertemuan tersebut, seorang saksi dari Universitas Georgetown menjelaskan bahwa model AI paling canggih di China, seperti DeepSeek R1, sangat bergantung pada semikonduktor yang dibuat di AS. Meskipun ada kontrol ekspor yang diterapkan untuk membatasi akses China terhadap teknologi ini, ada kekhawatiran bahwa China dapat mengatasi kendala tersebut dengan memanfaatkan persediaan yang telah mereka kumpulkan sebelumnya.Saksi tersebut juga mengingatkan bahwa meskipun kontrol ekspor dapat menciptakan kesenjangan dalam kualitas dan kuantitas chip AI di China, kesenjangan ini mungkin tidak bertahan lama. Perusahaan-perusahaan di China telah menyimpan peralatan asing sebelum kontrol diberlakukan, sehingga mereka masih memiliki sumber daya untuk terus berinovasi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya untuk membatasi kemajuan teknologi China, mereka mungkin masih dapat mengejar ketertinggalan dalam pengembangan AI.
Meski pembatasan ekspor AS saat ini dapat memperlambat kemajuan teknologi AI China, hal ini hanya solusi jangka pendek karena China memiliki kapasitas dan tekad besar untuk mengembangkan teknologi semikonduktor dalam negerinya sendiri. Ketergantungan terhadap impor chip mungkin berkurang secara bertahap, sehingga AS harus terus memperkuat strateginya agar tidak tertinggal dalam perlombaan teknologi AGI.