DeepSeek, sebuah perusahaan start-up kecerdasan buatan (AI) asal China, mengalami masalah layanan setelah diduga menjadi korban serangan siber. Meskipun perusahaan telah mengumumkan perbaikan untuk serangan DDoS yang besar, banyak pengguna masih mengalami kesulitan dalam mengakses layanan mereka. DeepSeek membatasi pendaftaran baru hanya untuk nomor telepon China, alamat email, atau akun Google, dan memperingatkan bahwa pendaftaran mungkin sibuk karena serangan yang berskala besar.Serangan ini diduga berasal dari AS, dan ada laporan bahwa serangan DDoS tersebut mencapai 230 juta permintaan per detik. Sementara itu, DeepSeek mendapatkan perhatian global karena model AI terbaru mereka yang bersifat open-source, tetapi juga menghadapi tantangan hukum dan regulasi dari berbagai negara. Beberapa negara, termasuk Italia dan Australia, telah memperingatkan pengguna untuk berhati-hati dan membatasi akses ke aplikasi DeepSeek karena masalah penggunaan data pribadi.
Serangan DDoS yang sangat besar ini menunjukkan bahwa persaingan teknologi AI kini juga berwujud serangan siber yang agresif, bukan hanya persaingan inovasi. Negara-negara harus lebih waspada terhadap risiko keamanan yang melekat pada adopsi teknologi asing, terutama yang berasal dari negara dengan hubungan geopolitik kompleks.