Pada hari Senin, startup teknologi asal China, DeepSeek, mengumumkan bahwa platform mereka menjadi target serangan siber besar-besaran yang mengganggu pendaftaran pengguna baru. Meskipun pengguna yang sudah ada tidak mengalami masalah, serangan ini terjadi pada saat penting ketika DeepSeek baru saja menjadi aplikasi gratis yang paling banyak diunduh di App Store AS. DeepSeek dikenal karena model AI terbarunya, R1, yang telah mendapatkan perhatian karena kemampuannya yang canggih dan biaya pengembangan yang jauh lebih rendah dibandingkan pesaingnya.Kenaikan cepat DeepSeek menyoroti persaingan yang semakin ketat dalam dunia AI, terutama antara AS dan China. Meskipun menghadapi tantangan seperti pembatasan ekspor chip dari AS, DeepSeek berhasil mengembangkan teknologi AI yang menarik perhatian banyak investor dan analis. Namun, keberhasilan ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan ahli teknologi AS, yang khawatir bahwa kemampuan DeepSeek untuk menciptakan AI canggih dengan biaya rendah dapat mempersempit jarak antara China dan pemimpin AI Amerika.
DeepSeek menunjukkan bahwa keberhasilan teknologi AI kini tidak hanya ditentukan oleh skala dan dana besar, tetapi juga efisiensi dan pengelolaan risiko secara cerdas. Namun, serangan siber yang menimpa mereka menggarisbawahi perlunya startup AI ini menguatkan sistem keamanannya agar tidak terhambat dalam persaingan global yang semakin ketat.