DeepSeek, sebuah startup AI dari China, sedang menarik perhatian karena klaimnya yang lebih efisien dibandingkan pesaingnya. Hal ini menambah ketidakpastian dalam proyeksi permintaan listrik untuk pusat data di AS, yang semakin penting bagi perusahaan energi. Penggunaan listrik untuk melatih dan menggunakan model AI dapat mempengaruhi emisi karbon, terutama jika sumber energinya berasal dari bahan bakar fosil. Para analis mencatat bahwa model DeepSeek dapat mengurangi kebutuhan listrik yang diperlukan untuk pelatihan model AI, tetapi juga dapat meningkatkan permintaan listrik karena lebih banyak orang akan menggunakan teknologi ini.Sebelum kehadiran DeepSeek, proyeksi kebutuhan pusat data sudah sulit diprediksi. Laporan dari Departemen Energi memperkirakan bahwa pusat data akan menyerap antara 6,7% hingga 12% dari total konsumsi listrik AS pada tahun 2028, meningkat dari 4,4% pada tahun 2023. Meskipun ada ketidakpastian, perusahaan teknologi tetap berencana untuk melakukan investasi besar-besaran. Dengan keberhasilan DeepSeek yang mengejutkan, masa depan permintaan listrik di AS terkait dengan AI di pusat data menjadi semakin tidak pasti.
Penemuan DeepSeek menunjukkan bahwa asumsi lama tentang konsumsi energi AI mungkin terlalu berlebihan, namun potensi peningkatan penggunaan AI bisa tetap mendongkrak kebutuhan listrik secara signifikan. Para pembuat kebijakan dan investor harus berhati-hati dalam merencanakan kapasitas energi dan mempertimbangkan kemajuan teknologi yang cepat ini agar tidak terjadi pemborosan sumber daya.