TLDR
Temuan tentang interaksi Siwarha dan Betelgeuse meningkatkan pemahaman kita tentang perilaku bintang besar. Pengembangan karir di bidang astronomi dan teknologi sangat terbuka bagi pemuda Indonesia. Keterlibatan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi dapat membawa inovasi dan peluang global bagi generasi muda. Pomodo.id - Tim astronom telah menemukan bukti bahwa Siwarha, sebuah bintang pendamping yang tersembunyi, mengorbit begitu dekat dengan Betelgeuse sehingga dapat menyebabkan perubahan bentuk atmosfer Betelgeuse secara berkala. Temuan ini diperoleh dari penelitian yang dipimpin oleh Dr. Lynn D. Matthews dari MIT Haystack Observatory di Amerika Serikat, dan dipublikasikan di The Astronomical Journal. Dengan menggunakan teleskop radio canggih, tim dapat merekonstruksi atmosfer luar Betelgeuse dan menemukan bahwa bentuknya tampak lebih lonjong saat Siwarha berada pada posisi tertentu.Penelitian ini menggunakan dua teleskop radio, Karl G. Jansky Very Large Array (VLA) di New Mexico dan Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA) di Chili. Langkah ini memungkinkan tim untuk mengambil gambar piringan Betelgeuse pada tujuh frekuensi radio. Hasilnya menunjukkan bahwa atmosfer Betelgeuse berubah bentuk mengikuti orbit Siwarha, dengan bentuk paling lonjong saat Siwarha berada pada jarak terjauh, dan kembali bulat saat bintang pendamping melintas di depan atau belakang Betelgeuse. Selain itu, Siwarha mengorbit hanya sekitar 2,3 kali jari-jari Betelgeuse, menunjukkan kedekatan yang signifikan.Namun, meskipun temuan ini menunjukkan adanya hubungan antara Siwarha dan atmosfer Betelgeuse, studi ini memiliki batasan. Tim peneliti menekankan perlunya pengamatan tambahan untuk memastikan dampak langsung Siwarha terhadap atmosfer Betelgeuse, serta belum bisa membuktikan bahwa Siwarha memicu peristiwa Great Dimming yang terjadi pada akhir 2019 hingga awal 2020. Penelitian lebih lanjut akan dilakukan untuk memahami lebih dalam mengenai interaksi ini, terutama dengan menggunakan frekuensi yang sebelumnya jarang diamati.
Bintang Maharaksasa Merah
Bintang maharaksasa merah seperti Betelgeuse adalah bintang yang sangat besar dan masif yang berada di ujung siklus hidupnya. Bintang ini memiliki radius sekitar 1.400 kali radius Matahari dan memancarkan cahaya lebih dari 100.000 kali cahaya Matahari. Keunikan dari bintang ini adalah atmosfer luar yang sangat luas dan renggang, yang menyebabkan mereka sering kali menjadi objek penelitian dalam astronomi. Memahami perilaku atmosfer bintang raksasa ini penting karena dapat memprediksi bagaimana mereka akan berperilaku menjelang akhir hidupnya.
Bagi pembaca muda di Indonesia, temuan ini menyajikan perspektif baru tentang pengamatan astronomi dan bagaimana teknologi canggih dapat membuka wawasan lebih jauh mengenai alam semesta. Rasi Orion, yang dikenal sebagai Lintang Waluku dalam budaya Jawa, memiliki Betelgeuse sebagai bintang kemerahan terang di bagian "bahu"-nya, dan dapat dilihat dengan mata telanjang dari seluruh penjuru Indonesia, termasuk pada bulan November hingga Maret. Koneksi ini memungkinkan publik untuk tidak hanya memahami, tetapi juga melihat langsung objek penelitian ini di langit. Seiring dengan kemajuan penelitian dan pemahaman kita tentang bintang, ada potensi untuk menarik minat pada karir di bidang astronomi, astrofisika, dan teknologi yang berkembang dalam mempelajari fenomena luar angkasa.Secara keseluruhan, meskipun temuan ini tidak serta merta mengubah cara kita memandang astronomi, ia membuka jalan untuk penelitian lebih lanjut yang dapat menciptakan peluang di bidang pendidikan STEM di Indonesia. Generasi muda Indonesia yang tertarik pada sains dan teknologi dapat memanfaatkan penelitian ini sebagai inspirasi untuk mengejar studi dan karir di bidang yang berkaitan. Teknologi yang digunakan dalam pengamatan ini bisa menjadi contoh alat yang bisa mereka akses di masa depan untuk eksplorasi lebih dalam terhadap alam semesta.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 5 Nov 2026, 08.46 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)