TLDR
Penemuan XRISM tentang plasma yang jatuh ke bintang neutron memberikan wawasan baru tentang interaksi materi ekstrem dan medan gravitasi. Teknologi dan infrastruktur untuk observasi astronomi masih terbatas di negara-negara seperti Indonesia. Peningkatan pemahaman tentang bintang neutron dapat membuka peluang karier di bidang sains dan teknologi bagi generasi muda. Pomodo.id - Temuan terbaru dari observatorium sinar-X XRISM, hasil kolaborasi antara NASA dan JAXA (badan antariksa Jepang), menunjukkan keberhasilan dalam mempelajari interaksi antara plasma gas dari angin bintang raksasa dan bintang neutron. Observasi ini dilakukan terhadap sistem biner bernama BP Crucis, yang terletak sekitar 13.000 tahun cahaya dari Bumi dan dipublikasikan pada 18 September 2026 di jurnal Science Advances. Penemuan ini memberi wawasan baru bagi astronom tentang perilaku materi yang jatuh ke bintang kompak.Sistem BP Crucis memiliki dua komponen utama: bintang utama yang disebut Wray 977, merupakan bintang hipergiran biru dengan massa sekitar 40 kali lipat dari Matahari dan ukuran sekitar 60 kali radius Matahari. Bintang di posisi ini menghasilkan gas terionisasi yang terus-menerus mengalir keluar, disebut angin bintang. Pendampingnya, GX 301-2, adalah bintang neutron berukuran kecil tetapi sangat padat, yang merupakan hasil dari ledakan supernova. Proses ini menciptakan objek yang memiliki massa lebih besar daripada Matahari dalam diameter hanya sekitar 20 kilometer, berputar setiap 11 menit, dan memancarkan sinar-X, menjadikannya sebagai pulsar.Selama dua kali dalam setiap orbitnya yang berlangsung 41,5 hari, sistem ini mengalami flare sinar-X yang kuat. Penelitian menunjukkan bahwa gravitasi bintang neutron menarik material dari bintang utama, menciptakan aliran plasma yang condong jatuh ke arah pulsar. Pada 1 Februari 2025, XRISM mengamati sistem ini selama 16 jam pada saat salah satu flare terkuat, dan instrumen Resolve berhasil merekam detail sinar-X dengan sangat baik. Data yang didapat menunjukkan gas bergerak menjauhi pengamat dengan kecepatan sekitar 540.000 kilometer per jam, menandakan bahwa material tersebut jatuh menuju pulsar.
BP Crucis adalah sistem biner sinar-X yang terdiri dari bintang raksasa dan bintang neutron. Sistem ini merupakan laboratorium alami untuk mempelajari proses akresi, di mana bintang neutron mengumpulkan materi dari bintang pendampingnya. Ini penting karena memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana objek kompak mengumpulkan materi, yang menjadi dasar berbagai fenomena energi tinggi di alam semesta. Banyak orang keliru menganggap bahwa bintang neutron tidak dapat memengaruhi materi secara signifikan, namun penemuan ini memberikan bukti bahwa interaksi semacam itu sangat mungkin terjadi.
Walaupun penemuan ini menawarkan pemahaman baru, juga terdapat batasan. Sebelumnya, tidak ada bukti jelas bahwa plasma angin bintang jatuh ke objek kompak seperti bintang neutron. Penelitian ini menunjukkan sebaliknya, namun dibutuhkan lebih banyak data untuk mengkonfirmasi model yang diusulkan peneliti tentang bagaimana materi tersebut terakresi.Penemuan ini relevan bagi generasi muda di Indonesia, terutama mereka yang berkecimpung dalam bidang sains dan teknologi. Kesadaran tentang bagaimana fenomena astronomis di luar angkasa dapat memiliki efek terhadap pemahaman kita tentang fisika atau sumber energi tinggi membuka peluang kerja baru. Bagi mereka yang tertarik berkarir dalam penelitian atau teknologi ruang angkasa, pemahaman mendalam tentang interaksi fisik semacam ini penting untuk pengembangan keahlian, seperti di bidang fisika astrofisika atau teknologi pengamatan luar angkasa. Penemuan seperti ini tidak hanya memperkuat ilmu pengetahuan tetapi juga mendorong adopsi teknologi baru di Indonesia, yang dapat berkontribusi pada kemajuan dalam bidang energi terbarukan atau eksplorasi luar angkasa di masa depan.