TLDR
Tanah longsor permafrost dapat dipicu oleh kebakaran hutan yang terjadi beberapa dekade sebelumnya. Pergerakan tanah di wilayah permafrost dapat terjadi secara tiba-tiba dan menyebabkan kerusakan besar. Perubahan iklim yang cepat dapat menyebabkan pencairan permafrost dan memicu longsor yang katastropik. Pomodo.id - Di Wilayah Northwest Territories, Kanada, terjadi peristiwa longsor besar yang menciptakan kekhawatiran baru terkait perubahan iklim. Pada tahun 2018, sebuah slab tanah dengan volume setara dengan tujuh Piramid Giza tiba-tiba tergelincir, memunculkan bekas menganga di lansekap hutan. Menariknya, pergerakan ini dimulai dari tanah beku (permafrost) yang telah stabil selama bertahun-tahun. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa longsor ini termasuk dalam kategori longsor baru yang disebut *permafrost detachment slides*, yang dipicu oleh kebakaran hutan yang terjadi beberapa dekade lalu. Kebakaran tersebut menyebabkan kondisi tanah yang tidak stabil, membentuk retakan yang memungkinkan air meresap ke bawah, akhirnya mencairkan lapisan beku dari bawah dan melepaskan seluruhnya dalam slide yang bencana.Para ilmuwan menyatakan bahwa longsor besar seperti ini tidak biasa menggerakkan material beku yang masih tersimpan, dan biasanya, jika terjadi di lapisan yang mencair, laju pergerakannya cenderung lambat. Namun, penemuan ini menunjukkan bahwa kita perlu lebih memahami dinamika yang terjadi di bawah permukaan di daerah permafrost, karena pergerakan tanah ini bisa saja berjalan lambat atau terjadi secara tiba-tiba dan merusak, seperti yang terjadi pada longsor di Kanada tersebut. Penelitian ini memberikan peringatan kepada peneliti dan pengambil kebijakan tentang potensi kerusakan yang diakibatkan oleh perubahan iklim.
Permafrost adalah lapisan tanah yang tetap beku selama dua tahun atau lebih. Ia berperan penting dalam mengatur sejumlah sistem ekosistem dan merupakan indikator utama perubahan iklim. Ketika permafrost mencair, ia tidak hanya melepaskan gas rumah kaca, seperti karbon dioksida dan metana, tetapi juga menyebabkan instabilitas tanah yang dapat memicu longsor atau kerusakan lingkungan lebih lanjut. Masyarakat sering menganggap bahwa permafrost hanya berfungsi sebagai penyimpan air. Namun, dampak pencairannya jauh lebih luas dan berpotensi berbahaya, mengingat situasi ini dapat mengganggu biodiversitas dan mempengaruhi kehidupan manusia.
Kejadian longsor semacam ini mengimplikasikan bahwa perubahan iklim sudah mulai berdampak secara nyata, bukan hanya dalam bentuk suhu yang lebih tinggi, tetapi juga pada kestabilan lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa pergeseran iklim yang lebih cepat dapat terjadi di belahan dunia mana pun, termasuk Indonesia. Untuk kaum muda Indonesia yang bekerja di sektor pertanian atau sumber daya alam, pengetahuan tentang perubahan iklim menjadi semakin penting. Profesi yang berfokus pada sustainability atau manajemen lingkungan mungkin akan semakin dicari, dengan keterampilan baru dalam ilmiah dan teknologi hijau menjadi keunggulan di pasar kerja.Dengan semakin meningkatnya kesadaran tentang dampak perubahan iklim, peluang untuk berinvestasi di teknologi yang ramah lingkungan juga akan meningkat. Jika Indonesia berkomitmen untuk mengatasi masalah lingkungan, hal ini bisa membuka jalan bagi pengembangan produk dan layanan yang lebih berkelanjutan. Seiring cerita-cerita seperti longsor di Kanada menjadi berita, penting bagi generasi muda Indonesia untuk menyadari bagaimana fenomena ini dapat mempengaruhi studi, pekerjaan, dan masa depan mereka sendiri. Mengingat perubahan iklim akan menjadi tantangan besar di masa depan, kemampuan untuk beradaptasi dan mencari solusi inovatif akan menjadi harta karun yang sangat berharga.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 2 Nov 2026, 21.06 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)