TLDR
PermaC mengembangkan 'blanket' untuk mencegah emisi gas rumah kaca dari permafrost. Pengujian awal menunjukkan bahwa blanket dapat menghentikan erosi pada permafrost yang mencair. Perusahaan berencana untuk menerapkan metode ini di 20.000 slump di Kanada dan Alaska dalam dekade mendatang. Pomodo.id - Sebuah perusahaan start-up asal Kanada sedang mengembangkan metode baru untuk mencegah emisi gas rumah kaca dari permafrost di Arktik, dengan menggunakan selimut pengisolasi yang terbuat dari bahan kayu. Pendekatan ini bertujuan agar karbon yang terperangkap di dalam tanah tetap terkubur, yang sangat penting seiring meningkatnya suhu akibat emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia. Menurut Cansu Culha, salah satu pendiri perusahaan tersebut dan peneliti bahaya alam di Universitas British Columbia di Vancouver, "Tujuan kami adalah memastikan bahwa karbon di tanah tetap terpendam."Permafrost, atau tanah beku, mulai mencair akibat suhu global yang meningkat. Perubahan ini menyebabkan emisi gas rumah kaca yang setara dengan emisi dari Jepang. Meskipun cara terbaik untuk memperlambat pemanasan global secara keseluruhan adalah dengan mengurangi emisi dari bahan bakar fosil, beberapa peneliti saat ini mencari metode alternatif untuk mencegah pencairan permafrost secara langsung. Ini mencakup penggunaan mat reflektif di gletser atau memompakan air untuk mempertebal es laut.Upaya PermaC menyoroti pendekatan yang inovatif dan berfokus pada pencegahan pencairan permafrost dan emisi yang terkait dengannya. Mereka baru saja menyelesaikan uji coba pertama untuk selimut isolasi di Wilayah Barat Laut Kanada, di kawasan permafrost yang mengalami erosi cepat diketahui sebagai retrogressive thaw slump. Definisi retrogressive thaw slump adalah saat sebuah bukit permafrost mencair dan runtuh, menciptakan tantangan baru bagi lingkungan dan iklim.
Permafrost adalah tanah beku yang terbentuk selama beberapa tahun dan terletak di daerah dingin seperti Arktik. Saat permafrost mencair, ia dapat mengeluarkan gas metana dan karbon dioksida, dua zat yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Pendekatan inovatif seperti yang dikembangkan oleh PermaC memberi harapan baru dalam usaha mitigasi perubahan iklim, karena dapat secara langsung mengurangi emisi dari permafrost.
Inovasi ini membuka peluang bagi para pemuda Indonesia di bidang teknologi dan lingkungan. Peningkatan kesadaran terhadap perubahan iklim dan dampaknya dapat menciptakan peluang kerja di sektor energi terbarukan dan pengembang teknologi ramah lingkungan. Dengan investasi dalam teknologi hijau dan penelitian, para lulusan baru dan pekerja awal dapat menemukan jalur karir yang relevan yang tidak hanya berkontribusi pada keberlanjutan tetapi juga mengurangi dampak negatif perubahan iklim di Indonesia.Namun, masih ada tantangan yang harus diperhatikan. Metode seperti ini memerlukan pengujian dan pengembangan lebih lanjut sebelum dapat diterapkan secara luas. Keterbatasan dalam skala penerapan dan biaya implementasi juga harus dipertimbangkan. Masyarakat dan pemerintah perlu bekerja sama untuk menciptakan regulasi yang mendukung inovasi semacam ini agar dampaknya dapat dirasakan di lokasi-lokasi yang paling membutuhkan penanganan terhadap perubahan iklim.Kedepannya, dunia menghadapi tantangan dalam mengatasi perubahan iklim, dan teknologi yang berorientasi pada penyelesaian seperti ini dapat menjadi model bagi strategi mitigasi di negara-negara lainnya, termasuk Indonesia. Dengan keterlibatan aktif di tingkat lokal dan nasional, generasi muda Indonesia dapat berkontribusi pada solusi yang berkelanjutan, mempersiapkan diri untuk tantangan masa depan yang akan semakin kompleks, dan menjadikan dunia tempat yang lebih baik untuk dihuni.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 8 Okt 2026, 14.06 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)