TLDR
Baterai sodium-ion memiliki potensi untuk mengurangi ketergantungan pada lithium dan biaya produksi yang lebih rendah. Meskipun sodium-ion memiliki keunggulan dalam kondisi dingin, baterai lithium-ion masih lebih unggul dalam kepadatan energi. Industri baterai kemungkinan akan berkembang dengan berbagai kimia untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda, bukan hanya satu jenis baterai. Pomodo.id - Sodium-ion batteries kini semakin menjadi pilihan menarik sebagai alternatif untuk mobil listrik, berkat kemajuan terbaru dalam teknologi penyimpanan energi. Salah satu pelaku utama dalam pengembangan ini adalah perusahaan raksasa baterai asal Tiongkok, CATL. Pada tahun 2026, CATL bersama produsen mobil Changan meluncurkan kendaraan penumpang pertama di dunia yang diproduksi secara massal dengan menggunakan baterai sodium-ion. Peluncuran ini menandai tahap baru bagi teknologi ini, yang diharapkan dapat menawarkan solusi lebih murah dan lebih resilien dibandingkan baterai lithium-ion yang saat ini mendominasi pasar.Battery sodium-ion menggunakan garam natrium yang tersedia melimpah di lautan dan sumber-sumber lainnya, berbeda dengan lithium yang lebih terbatas. Ini menjadikan sodium-ion baterai sebagai opsi yang lebih murah dan berkesinambungan dalam jangka panjang. Dalam kesepakatan yang juga diumumkan pada bulan April 2026, CATL menandatangani perjanjian untuk menyuplai 60 gigawatt-jam baterai sodium-ion kepada Beijing HyperStrong Technology untuk keperluan penyimpanan energi selama tiga tahun ke depan. Peningkatan kapasitas produksi dan komersialisasi ini menandakan potensi besar teknologi sodium-ion untuk bersaing di pasar baterai global yang terus berkembang.Namun, meski sodium-ion menawarkan kelebihan dari segi harga dan ketersediaan bahan baku, terdapat tantangan besar yang harus dihadapi. Baterai lithium-ion sudah memiliki keunggulan dalam hal kepadatan energi, biaya, dan skala produksi. Saat ini, baterai sodium-ion memiliki kepadatan energi sekitar 175 Wh/kg, yang masih di bawah baterai lithium iron phosphate yang mencapai 205 Wh/kg. Ini menunjukkan bahwa meskipun sodium-ion menjanjikan banyak keuntungan, mereka masih harus berjuang untuk mencapai paritas dengan teknologi yang sudah mapan.
Sodium-ion batteries adalah jenis baterai yang menggunakan ion natrium sebagai pembawa muatan, menawarkan alternatif yang lebih murah dan ramah lingkungan dibandingkan baterai lithium-ion. Tingginya ketersediaan natrium, yang terdapat dalam garam laut, menjadikannya bahan yang menarik untuk teknologi penyimpanan energi. Satu kesalahpahaman umum adalah bahwa bahan yang lebih murah otomatis menghasilkan baterai yang lebih buruk; padahal, meski sodium-ion batteries memiliki potensi besar, mereka masih harus membuktikan diri dalam hal performa dan daya tahan dibandingkan dengan baterai lithium-ion.
Perkembangan ini berpengaruh pada berbagai aspek, termasuk peluang karir di sektor teknologi energi. Dengan semakin populernya kendaraan listrik dan penyimpanan energi yang efisien, kebutuhan akan insinyur dan teknisi yang ahli dalam pengembangan baterai ini kemungkinan akan meningkat. Hal ini berarti bahwa bagi individu muda di Indonesia yang mempertimbangkan karir di bidang teknik, pekerjaan yang berhubungan dengan pengembangan baterai, terutama sodium-ion, dapat menjadi pilihan karir yang menjanjikan.Untuk ke depannya, perluasan teknologi baterai sodium-ion ini juga memungkinkan Indonesia untuk mengeksplorasi potensi besar di sektor energi terbarukan dan mempromosikan keamanan energi dalam negeri. Dengan investasi dalam teknologi yang lebih ramah lingkungan dan terjangkau, Indonesia bisa memperkuat posisi sebagai pemain global dalam industri kendaraan listrik dan teknologi penyimpanan energi, membuka jalan untuk inovasi lebih lanjut dalam komunitas lokal dan mendatang.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 1 Nov 2026, 23.05 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)