TLDR
Proyek Ruitan mengintegrasikan pembangkitan listrik sCO2 dengan penyimpanan energi garam cair untuk meningkatkan stabilitas jaringan. Sistem penyimpanan garam cair memiliki umur lebih dari 30 tahun, mengurangi biaya modal untuk penyimpanan energi jangka panjang. China berusaha untuk memimpin dalam teknologi penyimpanan energi alternatif sambil mengubah infrastruktur pembangkit listrik lama menjadi pusat energi bersih yang adaptif. Pomodo.id - China sedang menjalankan proyek yang menjanjikan dalam mengembangkan penyimpanan energi dengan menggunakan teknologi molten salt dan superkritis CO2 untuk menjaga stabilitas jaringannya saat permintaan energi meningkat. Proyek Demonstrasi Ruitan yang terletak di stasiun pembangkit Bajiao di provinsi Shandong akan menjadi fasilitas pertama di dunia yang memadukan pembangkit listrik yang menggunakan karbon dioksida superkritis dengan sistem penyimpanan energi thermal yang menggunakan molten salt. Dengan konstruksi yang dimulai pada 16 September 2023, fasilitas ini diharapkan beroperasi pada tahun depan, memberikan harapan baru untuk efisiensi energi di seluruh jaringan listrik.Proyek ini mencakup unit pembangkit superkritis berkapasitas 50 megawatt dan sistem penyimpanan molten salt yang memiliki kapasitas 100 megawatt, atau setara dengan 400 megawatt-jam. Ketika permintaan energi rendah, kelebihan listrik yang dihasilkan dari unit pembangkit berbasis batu bara akan digunakan untuk memanaskan molten salt. Pada saat permintaan puncak, panas yang tersimpan ini akan digunakan untuk menggerakkan unit superkritis yang menggunakan karbon dioksida alih-alih uap dalam menghasilkan listrik. Sistem yang lebih kompak, efisien, dan memiliki emisi karbon lebih rendah ini dapat menyesuaikan beban empat kali lebih cepat dibandingkan unit berbahan bakar batu bara.
Supercritical CO2 adalah karbon dioksida yang berada dalam keadaan tertekan sehingga memiliki sifat cair dan gas sekaligus. Ini memungkinkan sistem pembangkit untuk bekerja lebih efisien dan mengurangi pemborosan energi selama periode permintaan rendah. Banyak orang berpikir bahwa semua pembangkit listrik menggunakan uap untuk menggerakkan turbin, tetapi sistem superkritis justru dapat meningkatkan efisiensi energi yang dihasilkan dan mempercepat respons terhadap fluktuasi permintaan energi.
Namun, meski kemajuan teknologi ini terlihat menjanjikan, ada beberapa tantangan. Penggunaan energi berbasis batu bara tetap mendominasi dalam konteks penyaluran energi di China, karena pemanfaatannya yang besar dapat membatasi laju adopsi solusi energi terbarukan yang lebih bersih. Meskipun proyek Ruitan menunjukkan langkah penting dalam inovasi energi, ketergantungan pada batu bara masih menjadi masalah dalam transisi ke solusi energi yang lebih ramah lingkungan.Perkembangan ini memberikan dampak penting bagi pembaca muda Indonesia. Bagi mereka yang mengejar karir di sektor energi, pemahaman tentang teknologi baru seperti penyimpanan energi molten salt dan superkritis CO2 membuka peluang kerja baru dalam bidang teknik energi, pemeliharaan, dan manajemen sumber daya. Selain itu, bagi yang berminat berinvestasi, memahami tren ini dapat membantu dalam memilih bidang yang berkembang pesat, terutama energi terbarukan yang diharapkan akan semakin meningkat permintaannya di masa depan.Dengan pertumbuhan pesat yang terjadi di sektor energi China, ada kemungkinan bagi Indonesia untuk mengambil pelajaran dari inisiatif tersebut. Karena Indonesia juga menghadapi tantangan dalam memastikan stabilitas pasokan energi di tengah permintaan yang terus bertambah, studi mendalam mengenai teknologi yang telah terbukti ini bisa menjadi acuan untuk inovasi di dalam negeri. Penerapan teknologi serupa di dalam konteks Indonesia bisa membantu mengurangi risiko pemborosan energi, sekaligus meningkatkan efisiensi sistem energi secara keseluruhan dalam menghadapi tantangan di masa depan.