TLDR
Pohon poplar memiliki kemampuan unik untuk meluruskan diri berkat struktur yang menyerupai otot. Penelitian ini membuka peluang untuk pengembangan teknologi pertanian dan kehutanan yang lebih berkelanjutan di Indonesia. Institusi pendidikan dapat memanfaatkan penemuan ini untuk mengembangkan kurikulum yang lebih relevan dalam bidang kehutanan dan teknologi pertanian. Pomodo.id - Peneliti INRAE (Institut Nasional Penelitian Pertanian, Pangan dan Lingkungan Prancis) dan Université Clermont Auvergne menemukan bahwa pohon memiliki semacam "otot" kayu yang bekerja berpasangan untuk meluruskan batangnya. Temuan dari unit riset bersama PIAF di Clermont-Ferrand ini terbit di jurnal New Phytologist (DOI: 10.1111/nph.71238) dan menunjukkan bahwa kayu tarik, jaringan kayu yang selama ini dianggap hanya terbentuk di satu sisi batang, ternyata bisa berpindah sisi untuk menarik batang kembali tegak.Sejak 2012, ilmuwan tahu bahwa tumbuhan memiliki proprioseptif, yaitu kemampuan merasakan bentuk tubuhnya sendiri. Yang belum diketahui adalah bagaimana "rasa bentuk" itu diterjemahkan menjadi gerakan fisik pada batang yang sudah berkayu. Untuk mengujinya, tim yang dipimpin Alexandre Caulus dan Bruno Moulia meletakkan bibit poplar secara mendatar hingga ujung batangnya melengkung ke atas. Setelah sekitar 10 hari, bibit dipindahkan ke klinostat, yaitu platform mendatar yang terus berputar di dalam bola yang diterangi merata dari segala arah. Alat ini menghapus isyarat gravitasi dan cahaya, sehingga satu-satunya petunjuk yang tersisa bagi pohon adalah bentuk tubuhnya sendiri.Dalam beberapa minggu, batang yang melengkung itu perlahan kembali hampir lurus. Kayu tarik di sisi atas batang berhenti terbentuk begitu klinostat dinyalakan, lalu kayu tarik yang identik muncul di sisi berlawanan dan menarik batang ke arah sebaliknya, mirip pasangan otot bisep dan trisep pada lengan manusia. Direktur riset INRAE Bruno Moulia menyebut hasil ini sebagai lingkaran sensorimotor sejati yang bekerja di bagian berkayu pohon.Temuan ini mengoreksi anggapan lama bahwa kayu tarik hanya terbentuk di sisi atas batang, misalnya di pangkal pohon yang tumbuh di lereng. Menurut para peneliti, pemahaman ini dapat membantu menjelaskan cara pohon pulih setelah badai atau longsor, serta membantu seleksi pohon yang tumbuh lebih lurus, karena kayu tarik yang tidak terkoordinasi menimbulkan tegangan internal yang menurunkan mutu kayu. Tim juga melihat potensi penerapan pada tanaman serealia yang mudah rebah sebelum panen.Namun studi ini punya batasan jelas: eksperimen dilakukan pada bibit poplar muda di laboratorium, tanpa menguji pohon dewasa, spesies tropis, maupun tanaman pangan. Bagi Indonesia, pertanyaan yang relevan, misalnya apakah mekanisme serupa berperan pada padi yang rebah atau pada jenis kayu hutan tanaman, masih belum terjawab dan memerlukan riset lanjutan.
Kayu tarik (tension wood) adalah jenis kayu reaksi pada pohon berdaun lebar yang terbentuk ketika batang perlu dikoreksi posisinya. Serat kayu ini menghasilkan tegangan tarik yang kuat sehingga mampu membengkokkan batang ke arah sisi tempat ia terbentuk. Studi INRAE menunjukkan kayu tarik dapat terbentuk di sisi mana pun dan dikendalikan oleh kemampuan pohon merasakan bentuknya sendiri.
---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 1 Nov 2026, 20.45 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)