TLDR
Pengembangan perekat hayati dari biomassa lokal dapat mendukung keberlanjutan dan mengurangi penggunaan bahan kimia berbasis petroleum. Tantangan utama dalam mengkomersialkan teknologi perekat hayati adalah kurangnya infrastruktur dan pengetahuan teknis di industri lokal. Generasi muda memiliki peluang karir yang besar di sektor industri hijau, terutama dalam pengolahan biomassa dan inovasi produk ramah lingkungan. Pomodo.id - Adly Rahandi Lubis, seorang peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mendorong pengembangan perekat hayati yang dibuat dari biomassa lokal untuk diangkat ke skala industri di Kongres Riset Inovasi dan Teknologi Nasional 2026 (ISNND 2026). Penggunaan biomassa ini berpotensi memberikan solusi yang lebih berkelanjutan dalam berbagai aplikasi, tidak hanya mengurangi penggunaan bahan kimia berbasis petroleum tetapi juga mendukung produksi bahan yang ramah lingkungan.Penelitian yang dipresentasikan di ISNND 2026 menunjukkan bahwa biomassa lokal dapat menjadi sumber utama untuk menghasilkan perekat hayati yang efisien. Selama ini, banyak materi perekat yang tersedia di pasar masih tergantung pada komponen sintetis yang bisa merusak lingkungan. Proyek ini bertujuan untuk merumuskan metode baru yang memanfaatkan sumber daya yang sudah ada di Indonesia, memungkinkan penggunaan limbah pertanian dan hasil hutan yang terbarukan. Dengan teknologi ini, diharapkan dapat mengurangi biaya produksi dan dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh industri.Namun, ada tantangan yang signifikan dalam mengkomersialkan teknologi ini. Salah satunya adalah kurangnya infrastruktur pendukung dan pengetahuan teknis di kalangan industri lokal untuk memproduksi perekat hayati dalam skala besar. Selain itu, penerimaan pasar terhadap produk baru yang lebih ramah lingkungan ini juga belum sepenuhnya terjamin. Meski demikian, jika tantangan ini dapat diatasi, potensi pasar untuk perekat hayati di Indonesia akan sangat besar, mengingat semakin meningkatnya kesadaran akan keberlanjutan di kalangan konsumen.
Perekat hayati adalah bahan yang dibuat dari sumber biologis, yang dirancang untuk menggantikan perekat berbasis kimia. Ini penting karena dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan meningkatkan keberlanjutan dalam industri bahan. Meskipun ada misconception bahwa semua jenis perekat berbahan dasar sintetik lebih kuat dan lebih efektif, banyak penelitian menunjukkan bahwa perekat hayati dapat memberikan kinerja yang setara dan bahkan lebih baik dalam beberapa aplikasi spesifik.
Bagi kaum muda di Indonesia, perkembangan ini membuka peluang baru dalam karir dan industri. Para lulusan baru di bidang teknologi dan riset dapat menjajaki kemungkinan untuk berkarir di sektor industri hijau, berfokus pada inovasi produk yang ramah lingkungan. Selain itu, dengan semakin tingginya permintaan akan produk alami, mereka yang memiliki keterampilan dalam pengolahan biomassa atau teknologi ramah lingkungan dapat menemukan permintaan yang meningkat di pasar kerja. Inisiatif ini juga dapat menarik investasi dalam penelitian dan pengembangan yang mendukung sektor ramah lingkungan, memberi peluang bagi para investor muda untuk terlibat dalam industri yang berkelanjutan dan menguntungkan.Seiring dengan upaya-upaya yang dilakukan BRIN, Indonesia dapat memposisikan diri sebagai pemimpin dalam teknologi yang mendukung keberlanjutan dan inovasi. Dengan langkah ini, diharapkan semua pihak, terutama generasi muda, dapat berkontribusi dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan potensi yang ada untuk membangun masa depan yang lebih baik untuk Indonesia.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 28 Okt 2026, 19.55 WIB
Sumber: [BRIN (brin.go.id) ↗](https://brin.go.id)
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)