TLDR
Penyimpanan CO₂ secara geologis mencapai rekor 48,1 juta ton AS pada tahun 2024. Proyek Petrobras di Brasil menjadi proyek individu terbesar dengan penyimpanan 15,7 juta ton AS. Penyimpanan CO₂ perlu diperluas untuk mencapai tujuan iklim internasional dan memenuhi target Perjanjian Paris. Pomodo.id - Penyimpanan karbon dioksida (CO₂) secara geologis telah mencapai rekor baru, mencapai 48,1 juta ton AS (43,6 juta ton metrik) pada tahun 2024. Data ini diperoleh dari laporan terbaru yang dirilis oleh peneliti di Imperial College London. Laporan tahunan 2026 dari London Register of Subsurface CO₂ Storage mencakup 70 proyek di 17 negara di enam benua, memberikan catatan yang komprehensif tentang penyimpanan CO₂ global. Konsistensi operasi ini menunjukkan bahwa penyimpanan geologis merupakan teknologi mitigasi berskala besar yang semakin diakui secara internasional.Proses penyimpanan CO₂ geologis melibatkan penangkapan karbon dioksida dari operasi industri, pembangkit listrik, atau bahkan dari atmosfer, yang kemudian disuntikkan ke formasi batuan di bawah tanah. Hal ini memungkinkan CO₂ terjebak di bawah tanah selama ribuan tahun. Menurut London Register, penyimpanan tahunan meningkat dari 23,1 juta ton AS di tahun 2016 menjadi 48,1 juta ton AS pada tahun 2024. Amerika Serikat merupakan pemimpin dengan 23 proyek yang bersama-sama menyimpan 22,3 juta ton CO₂ pada tahun 2024.Sementara itu, Brasil juga memainkan peran penting dengan perusahaan Petrobras Santos yang berkontribusi dalam penyimpanan karbon. Namun, potensi penyimpanan CO₂ di negara lain, termasuk Indonesia, masih terbuka lebar. Di Indonesia, tantangan perubahan iklim semakin nyata dan membutuhkan perhatian lebih dari inovasi teknologi yang dapat diadopsi oleh berbagai sektor industri.
Penyimpanan CO₂ adalah proses di mana karbon dioksida yang dihasilkan oleh kegiatan manusia ditangkap dan disimpan di tempat yang aman di bawah tanah. Proses ini penting karena dapat membantu mengurangi jumlah CO₂ yang dilepaskan ke atmosfer, yang merupakan salah satu penyebab utama perubahan iklim. Meskipun terdengar teknis, penyimpanan CO₂ adalah langkah krusial dalam upaya global untuk menjaga kestabilan iklim dan merupakan bagian dari solusi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Meskipun ada kemajuan yang signifikan dalam penyimpanan CO₂, tantangan tetap ada. Misalnya, biaya dan infrastruktur yang diperlukan untuk proyek penyimpanan geologis adalah faktor yang bisa membatasi adopsi teknologi ini, terutama di negara sedang berkembang seperti Indonesia. Selain itu, masih ada kekhawatiran mengenai keamanan jangka panjang penyimpanan CO₂, termasuk potensi kebocoran yang dapat merugikan lingkungan.Perkembangan ini membawa implikasi penting bagi masa depan pemuda Indonesia. Dengan meningkatnya kesadaran tentang perubahan iklim dan pentingnya teknologi hijau, ada peluang baru dalam bidang pekerjaan yang berkaitan dengan energi bersih dan teknik lingkungan. Sektor-sektor ini akan mencari individu yang terampil dalam teknologi mitigasi, termasuk penyimpanan CO₂. Hal ini menciptakan lapangan kerja baru dan menarik bagi generasi muda yang ingin berkontribusi pada sustainability.Dalam konteks kebijakan dan investasi, pemuda Indonesia juga harus mulai memikirkan bagaimana berinvestasi atau terlibat dalam proyek-proyek energi bersih ini. Misalnya, dengan pertumbuhan sektor energi terbarukan dan penyimpanan karbon, perusahaan yang bergerak dalam bidang ini mungkin akan membutuhkan lebih banyak tenaga kerja terampil, termasuk insinyur dan profesional di bidang sains lingkungan. Oleh karena itu, generasi muda sekarang harus lebih siap dengan keterampilan yang relevan untuk menghadapi tantangan ini serta berkontribusi dalam mitigasi efek perubahan iklim di masa depan.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 26 Okt 2026, 02.05 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)