TLDR
Emisi gas rumah kaca global diperkirakan akan tetap datar pada tahun 2024 dan 2025, tetapi perlu penurunan signifikan untuk memastikan puncaknya. Meskipun ada kemajuan dalam energi bersih, target 1,5 °C dari Perjanjian Paris kini sulit dicapai, dengan proyeksi pemanasan mencapai 2,6 °C hingga 2,8 °C. Konferensi COP31 diharapkan menjadi momentum untuk mempercepat tindakan global dalam mengatasi perubahan iklim dan mengurangi emisi. Pomodo.id - Meskipun emisi gas rumah kaca global menunjukkan tanda-tanda datar sepanjang tahun 2024 dan 2025, perubahan suhu rata-rata diperkirakan akan melampaui 2 °C pada pertengahan abad ini jika tidak ada percepatan signifikan dalam pengurangan emisi, menurut laporan terbaru tentang perubahan iklim dari PBB. Menurut António Guterres, mantan sekretaris jenderal PBB, dunia tidak lagi memiliki jalan untuk menghindari pelampauan batas 1,5 °C, dan konsekuensinya kini sudah terlihat dengan jelas. Panas yang berkepanjangan, kebakaran hutan yang masif, dan banjir yang mematikan telah mengganggu banyak negara pada tahun 2026.Dalam laporan itu, para ilmuwan memperkirakan bahwa dengan kebijakan saat ini, suhu bumi bisa meningkat antara 2,6 °C hingga 2,8 °C di atas tingkat pra-industri selama abad ini. Hal ini jauh melebihi batas maksimum 2 °C yang ditetapkan oleh Perjanjian Paris untuk menghindari konsekuensi paling berbahaya dari perubahan iklim. Bahkan dalam skenario di mana semua negara mencapai semua komitmen pengurangan emisi yang ada, ada kemungkinan 10% bahwa pemanasan dapat melebihi 3,4 °C, yang akan menjadi bencana.Menghadapi kenyataan ini, beberapa peneliti dari Universitas Kansas mengungkapkan bahwa laju pemanasan global telah meningkat dua kali lipat antara tahun 2011 dan 2025 dibandingkan dengan periode sebelumnya. Mereka memperkirakan bahwa kita dapat melewati batas 1,5 °C seawal tahun 2028. Temuan ini menyoroti betapa sempitnya jendela yang tersisa untuk membatasi pemanasan tersebut, menegaskan perlunya pengurangan emisi gas rumah kaca yang cepat dan substansial.
Perjanjian Paris adalah kesepakatan internasional yang ditandatangani oleh 195 negara pada bulan Desember 2015 untuk membatasi kenaikan suhu global. Tujuan utamanya adalah menjaga agar peningkatan suhu tidak melebihi 1,5 °C di atas tingkat pra-industri. Meskipun ditujukan untuk merespons perubahan iklim, implementasinya menunjukkan banyak tantangan dan belum menunjukkan hasil yang cukup dalam mencegah pemanasan global.
Bagi generasi muda Indonesia, kondisi ini menciptakan tantangan sekaligus peluang. Terciptanya aksi global untuk mengurangi emisi berarti kebutuhan akan teknologi bersih dan energi terbarukan akan terus meningkat. Ini menciptakan peluang karir di sektor energi terbarukan, teknologi hijau, serta pengembangan inovasi dalam efisiensi energi. Untuk menggantikan bahan bakar fosil, keahlian dalam teknologi bersih menjadi semakin penting dalam pasar kerja global yang lebih hijau.Sebagai Indonesia berusaha untuk beradaptasi dengan efek perubahan iklim, wilayah seperti Jakarta bisa menjadi contoh konkret tentang risiko yang dihadapi negara ini. Jakarta, yang begitu rentan terhadap banjir, menghadapi krisis yang diperburuk oleh pemanasan global. Dengan demikian, penting bagi generasi muda untuk mengembangkan pemahaman tentang perubahan iklim dan teknologi yang dapat melawan dampak tersebut, dan memperkuat kemampuan mereka di pasar kerja yang semakin kompetitif.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 21 Okt 2026, 13.05 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)