TLDR
El Niño saat ini mencapai suhu permukaan laut yang lebih tinggi dari sebelumnya, memicu kekhawatiran akan dampak ekstrem. Perubahan iklim mungkin berkontribusi terhadap intensitas fenomena El Niño, meskipun konsensus ilmiah masih dalam perdebatan. El Niño ini dapat menyebabkan peningkatan suhu global dan berpotensi mengakibatkan lebih dari 450.000 kematian terkait panas dalam beberapa tahun ke depan. Pomodo.id - Sejak kemunculannya pada Juni 2023, fenomena iklim El Niño telah menunjukkan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan para ilmuwan memperkirakan bahwa kita sedang menghadapi salah satu El Niño terkuat dalam sejarah. Pada 21 September 2026, suhu permukaan laut di wilayah Pasifik ekuatorial tengah dan timur, tempat El Niño berkembang, tercatat 3,08 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata suhu dari tahun 1991 hingga 2020. Ini adalah peningkatan yang lebih ekstrem daripada semua El Niño yang pernah dicatat sebelumnya.Lonjakan suhu ini bukan hanya angka statistik; ia membawa potensi dampak yang luas. Dengan pemanasan yang begitu signifikan, dampak dari El Niño ini dapat menyebar secara global, menyebabkan kekeringan, banjir, gelombang panas, dan badai parah di berbagai belahan dunia. Misalnya, di beberapa daerah, kekeringan dapat mengakibatkan kerawanan pangan, sedangkan di yang lain, peningkatan curah hujan dapat menyebabkan banjir yang membahayakan.Namun, efek tidak selalu bersifat langsung dan dapat tidak terduga. Meskipun El Niño cenderung menyebabkan cuaca yang lebih ekstrem, ada faktor lain yang dapat mempengaruhi keparahan dampaknya, termasuk dampak perubahan iklim yang terus berlanjut. Selain itu, negara-negara yang sudah rentan terhadap kondisi cuaca buruk, seperti di Asia Tenggara, mungkin merasakan efek yang lebih serius.Bagi kaum muda di Indonesia, peningkatan suhu dan ketidakpastian cuaca ini bisa membawa dampak nyata. Salah satu perubahan yang mungkin kalian saksikan adalah penyesuaian dalam sektor pertanian. Pertanian adalah pilar penting bagi perekonomian Indonesia, dan dengan kemungkinan dampak dari El Niño yang mengganggu pola hujan dan suhu, petani mungkin menghadapi hasil pertanian yang berfluktuasi. Ini dapat memengaruhi harga pangan di pasar lokal, yang berpotensi membuat biaya hidup menjadi lebih tinggi.
El Niño adalah fenomena iklim yang ditandai oleh pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik ekuatorial. Ini berfungsi sebagai mekanisme penting yang mempengaruhi cuaca di seluruh dunia. Kalian mungkin berpikir bahwa El Niño hanya mempengaruhi wilayah Pasifik, tetapi efeknya bisa dirasakan hingga ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Fenomena ini dapat menyebabkan pergeseran pola curah hujan dan suhu, yang pada gilirannya berdampak pada pertanian dan ketahanan pangan.
Selain itu, potensi kerugian ekonomi yang dapat mencapai $10 triliun (sekitar 150 triliun Rupiah, setara dengan sekitar 500 kali gaji bulanan pekerja dengan pendapatan rata-rata) menjadi peringatan nyata untuk semua sektor, termasuk bisnis dan investasi. Dengan meningkatnya intensitas El Niño, penting bagi para pekerja muda dan pelajar untuk mengembangkan keterampilan yang relevan dalam bidang pertanian berkelanjutan, pengelolaan sumber daya air, dan teknologi untuk meningkatkan ketahanan terhadap bencana.Ke depan, pemanasan global yang berkelanjutan dapat memperburuk situasi, menjadikan pemahaman dan penelitian terkait iklim lebih penting dari sebelumnya. Para ilmuwan mengingatkan bahwa badai dan cuaca ekstrem dapat menjadi lebih sering terjadi seiring dengan pengaruh El Niño. Situasi ini mengharuskan individu dan pemerintah Indonesia untuk bersiap menghadapi tantangan yang akan datang, sehingga menciptakan peluang bagi yang ingin berkarir dalam penelitian iklim dan teknologi hijau.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 25 Sep 2026, 13.48 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)