TLDR
Batu kaya besi yang berada jauh di bawah tanah berpotensi untuk menghasilkan hidrogen secara efisien. Metode dari industri minyak dan gas dapat digunakan untuk membuka potensi sumber energi baru. Sophie Broun memiliki latar belakang yang kuat dalam bidang teknik dan energi, memberikan keyakinan pada proyek ini. Pomodo.id - Teknologi baru yang mengandalkan batuan besi untuk memproduksi hidrogen dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan bahan bakar konvensional sedang dikembangkan. Sophie Broun, CEO dan salah satu pendiri Anning, berpendapat bahwa teknik yang dipinjam dari industri minyak dan gas dapat memaksimalkan potensi sumber energi ini. Dengan lebih dari 15 tahun pengalaman kerja di perusahaan energi besar di AS, Chevron, dan latar belakang pendidikan teknik mesin dari Universitas Western Australia, Broun optimis bahwa metode ini akan membawa perubahan signifikan dalam produksi hidrogen.Dari hasil penelitian, diketahui bahwa batuan besi yang kaya akan mineral bisa menjadi media untuk menghasilkan hidrogen dengan efisiensi yang lebih tinggi. Biasanya, proses produksi hidrogen ini biayanya mahal dan banyak menggunakan sumber daya yang tidak ramah lingkungan. Di sisi lain, dengan teknologi baru ini, salah satu harapan yang ada adalah cost produksi bisa ditekan hingga mendekati USD 1 per kilogram, yang setara dengan sekitar IDR 15.000. Ini cukup signifikan mengingat harga pasar hidrogen saat ini yang jauh lebih tinggi dan bisa menjadi tantangan bagi pengusaha energi di Indonesia untuk beralih ke sumber yang lebih berkelanjutan.Namun, tantangan masih ada. Beberapa kritik muncul, menyarankan bahwa meskipun teknologi bisa mengurangi biaya, keberlanjutan ekologis dan keamanan produksi tetap perlu perhatian. Masih ada ketidakpastian mengenai dampak jangka panjang dari berbagai proses ekstraksi dan pengolahan yang akan digunakan. Ini juga merujuk pada pertanyaan apakah Indonesia memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan teknologi ini secara efektif.Perkembangan dalam bidang produksi hidrogen dari batuan besi ini membuka kemungkinan besar bagi generasi muda di Indonesia. Dengan tingginya fokus terhadap energi bersih dan transisi energi berkelanjutan di pasar global, ada peluang untuk mempersiapkan diri memasuki industri energi baru ini baik secara akademis maupun praktis. Pekerjaan di sektor energi bersih dan teknologi hijau diperkirakan akan meningkat seiring dengan berkembangnya kebutuhan akan solusi energi yang lebih ramah lingkungan. Hal ini mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk memperkuat kurikulum teknik dan ilmu lingkungan agar lebih relevan dengan tren dunia saat ini.
Hidrogen adalah elemen yang paling ringan dan melimpah di alam semesta, memiliki potensi sebagai penyimpan energi dan sumber bahan bakar yang bersih. Dalam konteks teknologi ini, hidrogen dapat digunakan dalam sel bahan bakar untuk menghasilkan listrik, air, dan panas tanpa menghasilkan emisi karbon. Sebuah kesalahpahaman umum adalah bahwa memproduksi hidrogen selalu harus mahal dan berisiko lingkungan. Namun, dengan teknologi baru yang memanfaatkan batuan besi, biaya ini bisa ditekan, membuka jalan untuk penggunaan hidrogen sebagai sumber energi masa depan yang lebih luas dan terjangkau.
Inovasi ini diharapkan membawa Indonesia ke dalam pembicaraan serius tentang keberlanjutan energi dan pengurangan emisi. Dengan meningkatnya pengetahuan tentang potensi sumber energi baru ini, generasi muda tidak hanya diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan dan implementasi teknologi ini, tetapi juga memiliki peluang untuk berinvestasi dan bekerja dalam sektor energi yang mungkin akan menjadi sektor pendorong penting di masa depan.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 18 Okt 2026, 10.06 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)