TLDR
Beberapa hewan dapat bersembunyi dengan cara menjadi hampir transparan, menghindari predator. Kekuatan invisibilitas tidak hanya bergantung pada pigmen tetapi juga pada struktur tubuh hewan. Ilmu tentang pembengkokan cahaya bisa menjadi dasar untuk menciptakan jubah invisibilitas, tetapi tantangannya masih banyak. Pomodo.id - Dalam dunia sains dan teknologi, konsep transparansi dan ketidakterlihatan bukanlah hal yang asing. Kita mengetahui bahwa hewan seperti chameleon dapat menyamarkan diri dengan hebat di lingkungan mereka, membuat mereka terlihat hampir tidak ada. Untuk waktu yang lama, konsep ketidakterlihatan telah menjadi material fiksi ilmiah, dengan karakter-karakter terkenal seperti Invisible Woman dalam komik Marvel. Menurut Kate Feller, seorang ekologi visual dari Union College di AS, memahami bagaimana hewan menggunakan teknik ini berhubungan langsung dengan cara kita melihat cahaya. Rahasia di balik "ketidakterlihatan" atau invisibility terletak pada bagaimana cahaya dipantulkan atau dibiarkan lewat oleh objek.Hewan-hewan tertentu memiliki bagian tubuh yang hampir tidak terlihat, memungkinkan mereka untuk bertahan hidup dalam situasi di mana tempat berlindung tidak mencukupi. Misalnya, pengaruh warna pada hewan bersumber dari pigmen yang mereka miliki, yang dapat menyerap dan memantulkan berbagai panjang gelombang cahaya. Oleh karena itu, ketika cahaya dapat bergerak dengan bebas melalui objek, objek tersebut menjadi lebih sulit untuk dilihat. Ini adalah aspek kunci dalam pengembangan teknologi yang terinspirasi oleh alam.
Teknologi invisibility cloak adalah sebuah concep yang sedang diteliti oleh para ilmuwan dengan tujuan untuk membuat objek tidak terlihat dengan cara mengubah arah cahaya yang melewatinya. Konsep ini masih berada dalam ranah teori, tetapi berpotensi memiliki aplikasi luar biasa, seperti dalam keamanan, militer, dan bahkan bidang medis. Salah paham umum ingin menganggap bahwa invisibility cloak telah menjadi kenyataan sekarang, saat ini, teknologi ini masih dalam tahap pengembangan, terinspirasi oleh teknik yang digunakan oleh hewan untuk bersembunyi.
Meskipun kemajuan semakin dekat, adopsi teknologi semacam ini menghadapi batasan besar. Penciptaan dan penerapan teknologi invisibility bergantung pada kemampuan manusia untuk mengatasi tantangan fisika terkait dengan cahaya dan material. Selain itu, ada juga pertimbangan etis dan keamanan, seperti bagaimana dan di mana teknologi ini dapat digunakan. Sehingga, saat ini, meskipun penelitian tentang teknologi invisibility menghasilkan kemajuan, penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari masih jauh dari jangkauan.Bagi para pemuda Indonesia yang memperhatikan perkembangan ini, ada implikasi penting yang harus dicerna. Dengan meningkatnya ketertarikan dunia pada teknologi inovatif, termasuk teknologi yang terinspirasi dari alam, perlunya perhatian lebih pada bidang sains dan teknologi menjadi krusial. Misalnya, sektor teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia diperkirakan akan memiliki nilai mencapai Rp100 triliun pada tahun 2030, yang membuka banyak peluang pekerjaan bagi generasi muda. Dengan 80% penetrasi internet di Indonesia pada 2025, pemuda dapat dengan mudah mengakses informasi terbaru serta berpartisipasi dalam diskusi mengenai pengembangan teknologi.Dengan memahami tren ini, generasi muda Indonesia diharapkan dapat menyiapkan diri untuk memasuki dunia kerja yang berfokus pada teknologi, riset, dan inovasi. Meningkatkan keterampilan di bidang sains dan teknologi akan menjadi keuntungan besar, tidak hanya bagi diri mereka sendiri tetapi juga bagi arah perkembangan Indonesia secara keseluruhan. Seiring dengan keberlanjutan teknologi, hal ini bisa mendorong mereka untuk berperan aktif dalam mewujudkan teknologi baru dan inovasi yang berkeberlanjutan.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 14 Okt 2026, 00.35 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)