TLDR
Sensor kuantum vertikal mampu beroperasi dalam medan magnet 1 Tesla. Teknik corner lithography digunakan untuk membangun struktur sensor yang kompleks. Ratusan sensor dapat diproduksi dalam satu proses, dengan tingkat keberhasilan hampir 90 persen. Pomodo.id - Penelitian terbaru di Universitas Twente, Belanda, menghasilkan sebuah sensor kuantum vertikal inovatif yang mampu mengukur pola nanoskal di material kuantum. Sensor ini dapat beroperasi dalam medan magnet sebesar 1 Tesla, yang merupakan 20.000 kali lebih kuat dibandingkan medan magnet Bumi. Kemajuan pemahaman kita mengenai teknologi kuantum dan sifat-sifat material kuantum semakin cepat, mendorong pengembangan aplikasi-aplikasi baru yang bermanfaat.Untuk merealisasikan aplikasi-aplikasi ini dalam kehidupan nyata, para ilmuwan perlu memahami lebih dalam mengenai bagaimana arus dan medan magnet beroperasi di dalam material kuantum. Mengingat bahwa teknologi kuantum bekerja pada skala nanometer, para peneliti harus menciptakan sensor yang dapat berfungsi pada skala tersebut. Sebuah perangkat bernama SQUID (Superconducting QUantum Interface Device) adalah sebuah magnetometer ultra-sensitif yang dapat mengukur medan magnet yang sangat lemah. Namun, berkaitan dengan jarak, medan magnet melemah, sehingga sensor harus sangat dekat dengan material untuk melakukan pengukuran yang akurat.Untuk mengatasi masalah ini, tim peneliti yang dipimpin oleh Hans Hilgenkamp, seorang profesor Fisika Terapan dan Nanoteknologi, mengembangkan sensor vertikal yang ditempatkan di atas sebuah piramida, memungkinkan pendekatan yang lebih dekat ke chip kuantum. Teknik ini memungkinkan sensor menangkap lebih banyak detail tentang medan medan magnet yang berada beberapa mikrometer dari sensor. Alih-alih membangun piramida, tim peneliti mengebor piramida dari sepotong silikon. Penggunaan teknik ini adalah bagian dari inovasi yang berupaya untuk memberikan fleksibilitas dan akurasi yang lebih baik dalam pengukuran di dunia kuantum.
SQUID adalah alat yang sangat sensitif yang digunakan dalam pengukuran medan magnet. Banyak orang menganggap alat ini hanya digunakan dalam kondisi laboratorium, namun sebenarnya SQUID memiliki potensi aplikasi yang luas, termasuk dalam perkembangan teknologi kuantum dan penggunaan di bidang medis. Pengembangan sensor kuantum seperti SQUID sangat berarti untuk masa depan teknologi, karena dapat meningkatkan pemahaman kita tentang interaksi medan magnet dalam berbagai material.
Perkembangan sensor kuantum vertikal ini menyiratkan potensi besar bagi karier di bidang teknologi kuantum dan nanoteknologi di Indonesia. Meskipun saat ini Indonesia belum memimpin dalam riset kuantum, dengan meningkatnya minat global terhadap teknologi kuantum, lulusan di bidang fisika, teknik, atau teknologi informasi akan semakin dicari untuk mengisi peran penting di industri yang berkembang ini. Dengan demikian, pemuda Indonesia yang ingin terjun ke bidang teknologi atau sains memiliki peluang yang lebih baik untuk berkarier di sektor yang menjanjikan ini.Inovasi seperti sensor kuantum yang dapat beroperasi dalam medan magnet ekstrem ini menunjukkan bahwa dunia teknologi sedang bertransformasi. Sensor yang lebih akurat di bidang penelitian material dan aplikasi praktis akan dapat meningkatkan industri dan teknologi di berbagai sektor, termasuk di Indonesia. Namun, untuk meraih manfaat dari perkembangan ini, penting bagi generasi muda untuk terus belajar dan beradaptasi dengan teknologi yang terus berevolusi.