TLDR
Magnetometer baru ini dapat mendeteksi aktivitas listrik otak dengan sensitivitas tinggi. Perangkat ini lebih sederhana dibandingkan dengan teknologi magnetometer canggih lainnya seperti SQUID dan SERF. Teknik pengurangan kebisingan yang rumit memungkinkan pengukuran yang akurat pada skala femtotesla. Pomodo.id - Peneliti telah berhasil mengembangkan alat pengukur medan magnet yang mengandalkan prinsip magnet levitrasi, yang cukup sensitif untuk mendeteksi sinyal lemah dari aktivitas listrik otak manusia. Alat ini dikenal sebagai magnetometer, yang menggunakan magnet yang melayang di antara magnet pengangkat di atasnya dan sebuah material diamagnet, yang menghasilkan medan magnetnya sendiri berlawanan dengan medan magnet eksternal. Penemuan ini melampaui teknologi sebelumnya yang lebih kompleks, dan dilaporkan dalam jurnal ilmiah "Science."Sistem magnetometer yang baru ini jauh lebih sederhana dibandingkan dengan metode pengukuran yang ada saat ini, seperti perangkat yang menggunakan superconducting quantum interference devices (SQUIDs), yang memerlukan suhu mendekati nol mutlak dan sistem cryogenics yang rumit. Selain itu, perangkat lain, seperti magnetometer spin-exchange relaxation-free (SERF) memerlukan perlindungan hampir sempurna terhadap gangguan medan magnet eksternal, yang membuatnya lebih rumit dan memperpanjang jarak antara sampel yang diukur dan perangkat magnetometer. Magnet levitrasi ini mengurangi jarak tersebut hanya beberapa ratus mikrometer, sehingga meningkatkan keefisienan pengukuran dan memudahkan aplikasi.Alat ini memiliki ukuran yang sangat kecil, hanya kurang dari satu milimeter, dan berfungsi sebagai jarum kompas yang sangat sensitif. Dalam aplikasinya, magnet levitrasi tersebut dapat digunakan untuk mempelajari aktivitas otak, yang membuka peluang baru dalam penelitian neurologi. Terlebih lagi, alat ini jauh lebih sensitif dibandingkan dengan magnetometer berbasis berlian, memungkinkan ilmuwan untuk mendeteksi sinyal-sinyal yang sebelumnya sulit ditangkap.Walaupun magnetometer levitrasi ini menawarkan kemudahan dan efisiensi, ada beberapa tantangan yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah kemungkinan batasan dalam pengukuran yang sangat tinggi atau dalam lingkungan dengan banyak gangguan magnet. Meskipun demikian, keberhasilan ini menunjukkan arah baru dalam penggunaan magnet dalam pengukuran dan penelitian, baik di sektor akademik maupun industri.Penemuan ini mempunyai implikasi yang jauh dan berpotensi mengubah cara kita memahami dan mempelajari aktivitas otak. Jika teknologi ini dapat diimplementasikan secara luas, terdapat kemungkinan untuk melakukan diagnosis yang lebih cepat dan akurat dalam ilmu kesehatan, yang sangat penting untuk perkembangan teknologi medis di masa depan. Dengan demikian, penelitian ini bukan hanya relevan di negara asalnya, Tiongkok, tetapi juga dapat memberikan inspirasi bagi penelitian di negara-negara lain, termasuk Indonesia.
Magnetometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur medan magnet. Dalam konteks ini, magnetometer levitrasi menggunakan teknologi baru untuk mendeteksi aktivitas listrik otak dengan lebih sensitif dan efisien dibandingkan metode tradisional. Dengan ukuran yang sangat kecil dan teknologi yang lebih sederhana, alat ini mewakili kemajuan dalam pengukuran dan dapat membuka pintu bagi penelitian lebih lanjut dalam bidang neurologi.
Dalam jangka panjang, pengembangan alat seperti magnetometer levitrasi ini dapat berkontribusi pada kemajuan dalam bidang medis, memungkinkan diagnosis yang lebih baik dan pemahaman yang lebih dalam tentang berbagai kondisi neurologis.