TLDR
Sistem sCO2 dapat meningkatkan keluaran daya turbin hingga 50% tanpa membakar bahan bakar tambahan. Teknologi ini memiliki potensi untuk mengurangi emisi karbon dioksida hingga 20 juta ton per tahun di AS. American Supercritical menargetkan pasar yang berkembang untuk pembangkit listrik berbasis gas dalam menghadapi meningkatnya permintaan energi. Pomodo.id - Startup dari Denver baru saja mengumumkan pendanaan sebesar $8 juta untuk mengkomersialkan sistem pembangkit listrik berbasis karbon dioksida superkritis. Teknologi ini dirancang untuk mengubah panas limbah dari turbin gas menjadi tambahan listrik, meningkatkan keluaran daya hingga 50% tanpa perlu membakar bahan bakar tambahan. Sistem ini secara khusus ditujukan untuk turbin gas siklus sederhana, yang dapat menghasilkan listrik langsung dari gas pembakaran panas tetapi juga kehilangan banyak panas melalui gas buangnya. Dengan sekitar 140 GW turbin semacam ini yang beroperasi di AS, potensi teknologi ini sangat signifikan.Alih-alih mengganti turbin yang ada, sistem ini dirancang untuk menambah siklus daya sekunder. Yang menarik, sistem ini tidak memerlukan modifikasi pada turbin yang sudah ada, dan dapat dipasang tanpa harus mendapatkan izin baru. Perusahaan ini berencana menggantikan metode yang lebih konvensional yang menggunakan uap untuk menghasilkan energi tambahan dengan memanfaatkan CO2 yang berada di atas suhu dan tekanan kritis, di mana CO2 memiliki sifat yang mirip dengan gas dan cairan sekaligus.
Supercritical Carbon Dioxide
Sistem karbon dioksida superkritis adalah teknologi yang memungkinkan karbon dioksida berada dalam keadaan di mana ia dapat melakukan pekerjaan seperti fluida. Dengan densitas yang tinggi, CO2 dalam keadaan ini dapat digunakan untuk menggerakkan peralatan pembangkit listrik seperti turbin dan penukar panas. Banyak yang salah paham bahwa teknologi ini hanya efektif untuk pabrik besar, padahal aplikasi ini dapat digunakan di berbagai skala, termasuk untuk instalasi baru dan yang sudah ada.
Meskipun inovasi ini menjanjikan, masih ada tantangan yang perlu dihadapi. Misalnya, adopsi teknologi ini memerlukan pendidikan dan pelatihan baru untuk tenaga kerja yang terlibat di sektor energi. Di Indonesia, yang sedang berusaha meningkatkan kesadaran akan energi terbarukan dan mengurangi emisi karbon, pengembangan sistem berbasis CO2 superkritis dapat mendorong lebih banyak investasi dalam teknologi energi bersih.Bagi generasi muda di Indonesia, pengembangan ini dapat mengubah cara mereka melihat peluang karir di sektor energi. Dengan semakin banyaknya perusahaan yang berpindah ke teknologi bersih dan efisien, keterampilan dalam teknologi energi baru menjadi semakin berharga. Bagi mereka yang berminat ke arah ini, belajar tentang sistem energi terbarukan dan efektifitas maksimum dari turbin gas bisa menjadi langkah penting dalam membangun karir yang berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan pasar kerja di masa depan.Melalui pengembangan teknologi seperti ini, diharapkan Indonesia dapat mengikuti jejak negara-negara maju dalam transisi energi yang lebih bersih, yang berpotensi memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan. Pengetahuan dan keterampilan yang relevan akan menjadi aset berharga, bukan hanya untuk individu, tetapi juga untuk pertumbuhan sektor energi di tanah air.