TLDR
Elemental Nuclear Energy dan Sandia National Laboratories bekerja sama untuk mengembangkan sistem pembangkit listrik berbasis sCO2. Sistem ini dirancang untuk memberikan sumber listrik yang dapat diandalkan dan efisien untuk data center dan instalasi militer. Generator pertama diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2027, dengan pengiriman komersial dimulai pada tahun 2028. Pomodo.id - Inovasi dalam pembangkit listrik sedang dilakukan oleh Elemental Nuclear Energy, sebuah perusahaan nuklir mutakhir, yang menggabungkan keahliannya dengan Sandia National Laboratories untuk mengembangkan sistem pembangkit listrik berbasis karbon dioksida superkritis (sCO2). Proyek ini mendapat persetujuan dari Departemen Energi AS sebagai bagian dari Proyek Kemitraan Strategis. Tujuan awalnya adalah untuk menciptakan sistem generator 1 megawatt (MW) yang dapat memanfaatkan gas alam dan panas sisa untuk menghasilkan listrik serta pendinginan. Teknologi ini diharapkan bisa diaplikasikan di pusat data modular kecil dan instalasi militer yang terpencil.Sistem sCO2 memanfaatkan karbon dioksida di dalam keadaan superkritis sebagai fluida kerja dalam siklus Brayton tertutup. Berbeda dari sistem konvensional yang menggunakan uap, sistem ini memperlancar sirkulasi CO2 di bawah kondisi yang memungkinkannya memiliki sifat sebagai cairan dan gas. Sandia berkontribusi dengan keahlian dalam teknologi Brayton cycle dengan rekombinasi tertutup dan memiliki fasilitas pengujian sCO2 besar yang memfasilitasi pengujian dan evaluasi sistem ini.Sementara proyek ini menjanjikan solusi inovatif untuk memenuhi kebutuhan energi, terdapat tantangan dalam mengembangkan dan menerapkan teknologi ini secara luas. Salah satu kendala yang mungkin muncul adalah kebutuhan untuk mengoptimalkan suhu dan tekanan dalam siklus, yang bisa mempengaruhi efisiensi dan keandalan sistem. Selain itu, meskipun teknologi pembangkit ini menunjukkan potensi yang tinggi, proses transisi dari percobaan ke fase komersial sering kali memerlukan waktu yang lama dan investasi yang signifikan.Ke depan, jika semua berjalan lancar, pengembangan ini berpotensi untuk menghasilkan sistem berkapasitas 10 MW yang dapat bekerja dengan berbagai sumber panas, termasuk reaktor nuklir ISTR yang direncanakan oleh Elemental Nuclear. Sistem yang lebih besar ini ditujukan untuk pusat data, mikrogrid, dan lokasi industri yang membutuhkan pasokan listrik yang dapat diandalkan langsung di tempat. Dengan semakin meningkatnya permintaan energi dari fasilitas seperti pusat data, teknologi ini bisa menjadi jawaban bagi penyedia energi dalam menghadapi tantangan pasokan.
Supercritical Carbon Dioxide (sCO2) System
Sistem sCO2 adalah teknologi yang menggunakan karbon dioksida dalam keadaan superkritis untuk menghasilkan energi. Dalam keadaan ini, CO2 memiliki karakteristik berbeda dari gas dan cairan biasa, memungkinkan efisiensi yang lebih tinggi dalam siklus pembangkitan energi. Teknologi ini penting karena dapat mengurangi emisi karbon dioksida dari pembangkit dan meningkatkan efisiensi energi, menjadikannya sebagai alternatif ramah lingkungan untuk sistem konvensional.
Pengembangan sistem ini diperkirakan dapat membantu mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil di masa depan, sejalan dengan upaya global untuk mencapai keberlanjutan. Pusat data yang punya konsumsi listrik tinggi, sebagai contoh, bisa berpotensi mengurangi biaya dan jejak karbon mereka dengan mengadopsi sistem ini. Dalam konteks Indonesia, meski tidak ada keterkaitan langsung yang diungkapkan, adopsi teknologi energii bersih seperti ini bisa menjadi bagian dari strategi diversifikasi sumber energi yang lebih luas menuju keberlanjutan energi nasional.