TLDR
Penelitian tentang aktivitas otak tikus membuka peluang baru dalam memahami interaksi antara otak dan informasi visual. Neuromorfik adalah pendekatan penting dalam teknologi yang dapat meningkatkan pemrosesan informasi dan interaksi manusia-komputer. Dengan investasi dalam penelitian, Indonesia dapat menjadi pemain utama dalam industri teknologi global. Pomodo.id - Ilmuwan yang berafiliasi dengan University College London (UCL) berhasil menciptakan teknologi yang memungkinkan mereka merekonstruksi video berdurasi 10 detik hanya dari aktivitas otak tikus. Penelitian ini, yang dipimpin oleh Dr. Joel Bauer dari Sainsbury Wellcome Centre UCL bersama kolaboratornya Troy W. Margrie dan Claudia Clopath, dipublikasikan di jurnal eLife pada 16 September 2026. Tim peneliti merekam aktivitas sel-sel saraf individual di korteks visual tikus saat hewan tersebut menonton film, kemudian menggunakan algoritma untuk merekonstruksi ulang video yang dilihat tikus, piksel demi piksel. Hasilnya adalah klip video yang menyerupai tayangan asli yang ditonton oleh tikus tersebut.Keberhasilan ini dicapai dengan pendekatan yang berbeda dibandingkan penelitian sebelumnya yang menggunakan fMRI (pencitraan otak beresolusi kasar). Tim UCL menggunakan rekaman aktivitas dari sel otak individual yang diukur dengan metode pencitraan mikroskopis untuk mendeteksi peningkatan kadar kalsium di dalam sel-sel yang aktif. Mereka memanfaatkan model pengodean saraf dinamis yang awalnya dikembangkan untuk Sensorium Competition 2023, model ini memprediksi respons neuron saat tikus menonton film dan memperhitungkan faktor lain seperti gerakan hewan dan perubahan diameter pupil.Langkah kunci dalam penelitian ini adalah mengukur prediksi perilaku neuron saat tikus hanya melihat layar kosong dan membandingkannya dengan aktivitas neuron yang sebenarnya terjadi saat menonton film. Selisih antara prediksi dan pengukuran ini digunakan algoritma untuk mengubah piksel dalam film kosong — sedikit demi sedikit — hingga rekonstruksinya semakin mendekati video aslinya. Salah satu uji terberatnya adalah saat model dilatih, peneliti merekam aktivitas otak tikus ketika menonton video yang sebelumnya belum pernah dimunculkan dalam data pelatihan, sistem tersebut tetap mampu merekonstruksi klip yang menyerupai video baru ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa sistem ini bukan hanya menghafal, tetapi dapat menyimpulkan informasi visual dari pola aktivitas saraf yang terjadi.Namun demikian, peneliti juga menemukan bahwa meskipun analisis menunjukkan perbedaan kecil dalam ketepatan waktu antara video asli dan rekonstruksinya, masih terdapat ruang untuk meningkatkan resolusi gambar dan cakupan pemandangan yang dapat direkonstruksi. Dengan demikian, meskipun hasilnya menjanjikan, ada tantangan tersendiri yang harus dihadapi ke depan.
Model Pengodean Saraf Dinamis
Model pengodean saraf dinamis adalah metode yang digunakan untuk memprediksi respons neuron terhadap rangsangan visual. Menggunakan data aktivitas neuron, model ini dapat merekrut informasi visual yang lebih lengkap daripada hanya merekam respons yang tampak. Ini sangat penting dalam penelitian yang berkaitan dengan penglihatan dan pemrosesan informasi visual oleh otak. Konsep ini bisa disalahpahami sebagai sekadar alat perekam; padahal, ini juga mengubah cara kita memahami bagaimana otak menafsirkan informasi.
Perkembangan ini membuka jalan baru dalam penelitian saraf dan penglihatan, membawa kita lebih dekat untuk memahami bagaimana otak merepresentasikan dunia di sekitar kita. Hal ini dapat berdampak pada cara kita melihat perkembangan teknologi terkait neuron yang dapat digunakan untuk mengembangkan alat bantu visual yang lebih canggih di masa depan. Dengan potensi aplikasi dalam bidang kesehatan mental dan teknologi penglihatan, penemuan ini bisa memberi wawasan baru bagi para mahasiswa dan profesional muda di Indonesia untuk mengejar karier di bidang neuroscience atau teknologi inovasi.Dengan teknologi yang semakin maju dalam rekonstruksi sinyal neural, mahasiswa di Indonesia kini lebih berpeluang untuk memasuki bidang penelitian saraf, teknologi visual, dan pengembangan terapi inovatif. Mengingat kebutuhan akan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai interaksi manusia dengan teknologi, ini menjadi kesempatan penting bagi generasi muda Indonesia untuk mempersiapkan diri menghadapi industri yang akan berfokus pada teknologi berbasis neuroscience di tahun-tahun mendatang.