TLDR
LG mengklaim bahwa TV mereka tidak merekam atau mentransmisikan percakapan pengguna secara terus-menerus. Fitur seperti Automatic Content Recognition dan pengenalan suara bersifat opsional dan tidak diaktifkan secara default. Ada kekhawatiran lebih luas tentang seberapa banyak data yang dikumpulkan LG dan bagaimana data tersebut dibagikan. Pomodo.id - Dalam beberapa minggu terakhir, perhatian publik tertuju pada masalah privasi yang melibatkan televisi pintar LG. Laporan terbaru dari beberapa saluran YouTube, termasuk Gamers Nexus dan Level1Techs, mengungkapkan bahwa televisi LG tidak hanya sekadar menyiarkan program, tetapi juga merekam dan mengunggah data tentang penggunanya, bahkan saat dalam mode siaga. Ini menimbulkan kekhawatiran tentang bagaimana data pribadi pengguna bisa dicuri tanpa izin.Menurut hasil investigasi, televisi pintar LG melakukan pemindaian terhadap jaringan Wi-Fi di sekitarnya untuk menemukan perangkat lain. Mereka juga diduga merekam log audio melalui mikrofon yang ada, bahkan ketika televisi dalam kondisi tidak terhubung dengan internet. Data ini kemudian diunggah ke LG Ad Solutions setelah koneksi internet pulih. Fitur yang dikenal sebagai Automatic Content Recognition (ACR) digunakan untuk mengidentifikasi konten yang sedang ditonton dengan menganalisis data audio dan video yang diambil dari input TV dan aplikasi yang digunakan melalui antarmuka pintar TV.Namun, LG membantah tuduhan tersebut, menyatakan bahwa pada kenyataannya, televisi mereka tidak terus-menerus merekam atau mentransmisikan percakapan pengguna. Dalam pernyataan resmi, LG menyebutkan bahwa pengenalan suara diproses secara lokal dan tidak mengumpulkan rekaman suara atau video. Meski demikian, posisi LG yang hanya menekankan bahwa pengumpulan data tidak dilakukan secara "berkelanjutan" menyebabkan kebingungan karena pengumpulan data ambient tetap berlangsung setelah pengguna berpikir bahwa sistem sudah berhenti mendengarkan.
Automatic Content Recognition
Automatic Content Recognition (ACR) adalah teknologi yang digunakan oleh televisi untuk mengidentifikasi konten yang sedang ditonton. Ini dilakukan dengan cara memanfaatkan suara dan gambar dari program yang diputar di televisi. ACR penting karena memungkinkan televisi untuk menyajikan iklan yang relevan kepada pengguna, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang privasi, khususnya terkait dengan seberapa banyak data yang sebenarnya dikumpulkan dan kepada siapa data tersebut dibagikan.
Dampak dari masalah privasi ini bisa berpengaruh langsung pada masyarakat, terutama generasi muda di Indonesia. Banyak dari mereka yang menggunakan televisi pintar tanpa menyadari potensi risiko pengumpulan data pribadi. Dengan meningkatnya teknologi seperti ini, keterampilan dalam memahami cara melindungi data pribadi menjadi semakin penting dalam dunia kerja. Selain itu, adopsi teknologi canggih yang dapat melacak aktivitas pengguna bisa memengaruhi cara perusahaan beriklan dan bagaimana individu diberikan informasi atau penawaran yang ingin dibeli.Sebagai catatan tambahan, pertumbuhan pengguna televisi pintar di Indonesia berarti bahwa masalah privasi juga perlu mendapat perhatian yang lebih besar dari pemerintah maupun produsen untuk memastikan bahwa hak pengguna dilindungi. Masyarakat Indonesia perlu lebih sadar akan kebijakan privasi dan teknologi yang ada di perangkat mereka sehingga dapat mengambil keputusan yang lebih baik tentang perlindungan data dan privasi di era digital ini.Kesadaran tentang penggunaan teknologi dengan bijak akan sangat membantu generasi muda dalam memilih produk yang tidak hanya canggih tetapi juga menjaga privasi mereka dalam jangka panjang.