TLDR
Pengujian thruster berbahan zinc berhasil dilaksanakan di orbit, memberikan opsi baru untuk propulsi satelit. Sistem Starlight yang menggunakan zinc dapat menyederhanakan desain dan mengurangi biaya propulsi. Data dari pengujian SERT-III akan digunakan untuk pengembangan lebih lanjut sistem propulsi dan diharapkan siap digunakan sebelum akhir 2026. Pomodo.id - Sebuah kemajuan signifikan muncul dalam dunia propulsi satelit dengan pengujian thruster Hall-effect yang menggunakan zinc padat. Muon Space berhasil mengoperasikan thruster ini dalam orbit untuk pertama kalinya pada 1 Juli 2026 di atas satelit pengujian propulsion SERT-III. Sistem propulsi Starlight yang mereka kembangkan menunjukkan performa yang baik, sesuai dengan prediksi tes yang dilakukan di bumi. Thruster ini berhasil mengubah trajektori satelit secara terukur, menandakan keberhasilan sistem baru ini dalam kondisi riil.Dalam pengujian tersebut, penggunaan zinc padat sebagai propelan menawarkan cara yang lebih efisien dibandingkan dengan sistem propulsi tradisional. Kebanyakan sistem saat ini mengandalkan xenon atau krypton, yang memerlukan penyimpanan bertekanan dan kompleksitas tambahan dalam desain satelit. Sebaliknya, zinc padat stabil pada suhu kamar dan tidak memerlukan tangki bertekanan, yang dapat menyederhanakan integrasi satelit dan operasional di bumi. Selain itu, biaya zinc jauh lebih rendah dibandingkan dengan gas mulia tradisional, yang bermanfaat ketika operator satelit siap untuk menggelar konstelasi yang lebih besar. Dalam konteks ini, penghematan dari pengurangan biaya perangkat keras propulsi dan propelan dapat menjadi signifikan, terutama saat satu sistem digunakan di puluhan satelit.Namun, meskipun langkah ini menjanjikan banyak keuntungan, tantangan tetap ada. Meski zinc padat menawarkan stabilitas dan biaya yang lebih rendah, peluncuran dan pengoperasian desain baru ini masih memerlukan perhatian mendalam dari para insinyur aerospace. Pengujian lebih lanjut dan data tambahan dari penerapan praktis akan diperlukan untuk memastikan bahwa teknologi ini dapat digunakan secara luas dan dapat diandalkan dalam misi yang lebih kompleks.
Thruster Hall-effect adalah teknologi propulsi listrik yang menggunakan medan magnet untuk menghasilkan dorongan. Pada umumnya, propulsi ini menggunakan gas yang diionisasi, seperti xenon, untuk menciptakan gaya dorong. Hal ini merupakan alternatif yang ramah lingkungan karena efisiensinya yang tinggi dibandingkan dengan propulsi berbasis bahan bakar kimia. Keunggulan zinc padat sebagai propelan terletak pada ketersediaannya yang lebih luas dan biaya yang lebih rendah, yang akan memperluas akses dan inovasi di industri satelit.
Kembangkanannya membuka peluang baru bagi para pemuda Indonesia yang bercita-cita berkarier di bidang teknologi dan aerospace. Sebagai contoh, industri satelit di Indonesia sedang berkembang pesat, dan dengan inovasi ini, potensi kerja di sektor teknologi ruang angkasa akan semakin meningkat. Generasi muda dapat mempertimbangkan untuk belajar materi terkait teknik aerospace, teknologi pemrosesan material, atau bahkan fisika yang berhubungan dengan propulsi. Keterampilan dalam bidang ini bukan hanya akan memperluas peluang kerja tetapi juga membantu Indonesia dalam memposisikan diri sebagai pemain yang lebih kompetitif dalam industri luar angkasa global.Dengan pengalaman baru ini, pengembangan teknologi propulsi yang lebih efisien seperti sistem Starlight dapat menjadi motivasi untuk penyempurnaan infrastruktur luar angkasa Indonesia. Keterlibatan di tingkatan awal ini mendukung cita-cita Indonesia untuk memiliki kemandirian dalam teknologi luar angkasa dan memperkuat posisi di arena internasional di masa depan.