TLDR
Konsep penggunaan senjata artileri besar untuk melawan serangan drone sedang dipertimbangkan oleh ilmuwan militer di China. Usulan armada kapal perang oleh Donald Trump menghadapi kritik terkait relevansi dan efektivitasnya dalam menghadapi ancaman modern. Diperlukan teknologi deteksi dan pelacakan yang canggih untuk mendukung penggunaan artileri sebagai solusi pertahanan terhadap drone. Pomodo.id - Ilmuwan militer China kini sedang meneliti potensi penggunaan meriam besar untuk melawan ancaman dari kawanan drone murah. Dalam sebuah studi yang dipimpin oleh Wang Lei dari Akademi Angkatan Laut Dalian, para peneliti berpendapat bahwa meriam dengan kaliber besar mampu menembakkan proyektil yang membawa pecahan, yang ketika meledak dapat menciptakan awan pecahan berkecepatan tinggi guna merusak beberapa drone sekaligus dalam suatu area. Implikasinya, senjata ini dapat menjadi pelengkap sistem pertahanan modern yang saat ini banyak mengandalkan misil dan laser.Tim peneliti menggunakan skenario yang melibatkan 30 drone jenis Lancet-3 yang masing-masing dapat membawa muatan hingga 3 kg. Dalam model yang mereka buat, satu proyektil bisa menghasilkan sekitar 2.000 pecahan, dengan estimasi sekitar 1.589 pecahan dapat menyebabkan kerusakan. Dengan asumsi awan pecahan menjangkau radius 15 meter, satu proyektil berpotensi merusak hampir 1,2 dari 30 drone dalam kawanan tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa meriam besar dapat meningkatkan efektivitas pertahanan terhadap serangan drone berbiaya rendah yang cenderung semakin banyak.Meski demikian, penggunaan meriam besar sebagai solusi tunggal bukanlah jawaban definitif. Di AS, diskusi serupa sedang berlangsung mengenai seberapa efektif meriam ini dibandingkan dengan penggunaan senjata modern lainnya seperti laser dan drone. Ini menandakan bahwa militer di banyak negara, termasuk China dan AS, sedang berpikir ulang tentang strategi pertahanan mereka di era yang semakin kompleks, di mana biaya senjata semakin jauh berkurang.
Pada dasarnya, meriam besar adalah alat tempur yang dirancang untuk menembakkan proyektil dengan kaliber besar yang mampu menghancurkan target di area luas, bukan hanya pada satu titik seperti proyektil biasa. Dalam konteks penelitiannya, penggunaan meriam dengan pecahan eksplosif memungkinkan untuk menyerang lebih banyak target sekaligus, yang sangat berguna dalam menghadapi serangan drone swarms. Ini merupakan sebuah inovasi dalam strategi perang, dan mungkin menjadi senjata tambahan untuk memperkuat pertahanan negara di masa depan.
Perkembangan ini bisa mengubah lanskap industri pertahanan di Indonesia, terutama bagi generasi muda yang tertarik pada teknologi militer dan inovasi pertahanan. Meskipun Indonesia tidak memiliki proyektil semacam itu saat ini, pemikiran tentang perkembangan teknologi canggih dalam industri pertahanan seperti ini dapat memicu minat di kalangan mahasiswa teknik dan teknologi. Kemajuan ini menunjukkan potensi besar untuk penelitian dan pengembangan di sektor pertahanan, suatu bidang yang menawarkan peluang karier yang menjanjikan bagi individu yang memiliki keterampilan dalam teknik dan teknologi informasi.Di sisi lain, meskipun meriam ini mungkin berperan dalam konflik di masa depan, banyak tantangan yang harus diatasi, termasuk biaya pengembangan dan implementasi. Dalam hal ini, posisi Indonesia sebagai negara berkembang juga perlu memperhatikan anggaran dalam pengadaan alat pertahanan. Seperti di banyak negara lainnya, kebangkitan drone murah sebagai senjata perang mungkin memperlambat investasi yang diperlukan dalam sistem pertahanan tradisional. Dalam jangka panjang, penting bagi para pemuda di Indonesia untuk memahami dinamika ini dan siaga terhadap perubahan yang mungkin terjadi, baik dalam teknologi maupun strategi militer di kawasan Asia Tenggara.