TLDR
Perusahaan perlu fokus pada efisiensi penggunaan AI untuk meminimalkan biaya yang tidak perlu. Standarisasi dalam pengolahan informasi dapat mengurangi pengulangan dan meningkatkan nilai. Penting untuk mengevaluasi kapan sistem AI harus menggunakan pemikiran mendalam atau cukup dengan mengulangi informasi yang sudah ada. Pomodo.id - Perubahan penggunaan kecerdasan buatan (AI) di berbagai perusahaan saat ini menunjukkan tanda-tanda pemborosan yang signifikan. Dalam industri, sering terjadi pengulangan dalam penggunaan AI untuk menyelesaikan masalah yang sama, hanya dengan variasi dalam cara pengungkapannya. Misalnya, kebijakan perjalanan bisa berubah bentuk menjadi permohonan penggantian biaya, kemudian permohonan pengecualian, hingga permintaan dari manajer terkait apa yang bisa disetujui. Dalam setiap siklus ini, biaya penggunaan AI terus bertambah tanpa adanya peningkatan nilai yang jelas.Laporan dari BCG pada Januari 2026 menunjukkan bahwa perusahaan telah memperkirakan pengeluaran AI akan meningkat dari 0,8% menjadi sekitar 1,7% dari pendapatan. Namun, survei global McKinsey pada November 2025 menyatakan bahwa hanya 39% responden yang melihat dampak positif PGAI terhadap keuntungan operasional bisnis mereka, dan sebagian besar dari kelompok ini melaporkan kontribusi di bawah 5%. Hal ini menunjukkan bahwa banyak aktivitas yang dilakukan dengan AI terkadang tidak menghasilkan nilai yang diharapkan.Uber adalah contoh nyata dari masalah ini. Chief Technology Officer Uber mengungkapkan bahwa perusahaan telah menghabiskan seluruh anggaran AI tahun 2026 hanya dalam waktu empat bulan. Sekitar 5.000 insinyur menggunakan alat pengkodean AI ini, dan disebutkan bahwa beberapa "pengguna berat" menghabiskan biaya hingga $2.000 per bulan hanya untuk token yang digunakan dalam aplikasi tersebut. Tanpa pengelolaan yang baik, penggunaan meningkat pesat tanpa hasil yang sepadan, sehingga biaya menjadi tidak terkontrol.
Token AI merupakan biaya yang dibebankan setiap kali model AI melakukan tindakan. Dalam banyak kasus, biaya ini menjadi item anggaran yang penting di tingkat perusahaan, tetapi banyak organisasi yang tidak dapat mengaitkan pengeluaran ini dengan hasil yang konkret. Banyak dari mereka yang tidak bisa membuktikan apa yang sebenarnya dihasilkan dari setiap dollar yang dihabiskan. Tanpa adanya pengukuran performa yang jelas, pengguna AI di perusahaan sering kali hanya mendapatkan laporan biaya tanpa dampak yang terlihat.
Pentingnya pengukuran hasil dari penggunaan AI, bukan hanya biayanya, menjadi lebih jelas. Dalam survei Deloitte 2026, ditemukan bahwa 74% organisasi berharap AI dapat meningkatkan pendapatan, tetapi saat ini hanya 20% yang berhasil mewujudkan harapan tersebut. Hal ini menunjukkan kesenjangan dalam penggunaan AI, di mana banyak perusahaan yang berinvestasi signifikan tidak dapat merealisasikan nilai dari investasi tersebut.Keadaan ini menggambarkan tantangan bagi generasi muda di Indonesia, terutama bagi mereka yang baru memulai karir di bidang teknologi atau bisnis. Dengan pertumbuhan pesat dalam penggunaan AI, penting untuk memahami bagaimana mengelola biaya ini agar tidak menjadi beban berlebih bagi perusahaan. Sebagai contoh, jika sebuah perusahaan menghabiskan US$2.000 per bulan hanya untuk token AI, ini kira-kira setara dengan satu bulan gaji awal seorang fresh graduate di Indonesia, yang bisa bertahan selama sebulan untuk kebutuhan sehari-hari.Sebagai langkah ke depan, integrasi AI yang lebih cerdas harus diimbangi dengan pendekatan pengelolaan yang lebih baik. Pengetahuan mengenai biaya versus realisasi nilai adalah kunci untuk bisnis yang berkelanjutan. Bagi yang berambisi memasuki dunia teknologi dan bisnis, penting untuk mengembangkan keterampilan dalam mengelola anggaran dan menghitung ROI (Return on Investment) dari setiap penggunaan AI, guna memaksimalkan potensi keuntungan dalam karir Anda di masa depan. Di Indonesia, ini bisa menjadi dasar manajemen bisnis yang lebih cerdas dan efisien di era digital saat ini.