TLDR
Songjiang menjadi pusat pengembangan industri luar angkasa di China dengan didirikannya pusat komputasi luar angkasa. SpaceSail, perusahaan yang didukung pemerintah, sedang membangun konstelasi satelit untuk bersaing dengan Starlink. Pemrosesan data di orbit akan mengurangi kebutuhan untuk mentransmisikan file mentah ke stasiun darat dan mempercepat intelijen waktu nyata. Pomodo.id - Songjiang di Shanghai, Tiongkok, baru saja mengumumkan pembangunan pusat komputasi satelit yang bertujuan untuk menyaingi jaringan satelit Starlink milik SpaceX pada tahun 2030. Komponen penting dari ekosistem ini adalah SpaceSail, sebuah perusahaan yang didukung oleh pemerintah Shanghai dan telah berhasil meluncurkan lebih dari 200 satelit. Pusat ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pemrosesan data di orbit, yang memungkinkan satelit menganalisis data secara langsung tanpa harus mengirimkan berkas mentah kembali ke stasiun di tanah, sehingga mempercepat pengambilan keputusan berbasis real-time.Melalui forum ruang angkasa yang baru-baru ini digelar, pusat komputasi di distrik Songjiang menyatukan berbagai pemangku kepentingan dari sektor aerospace, pembuatan semikonduktor, spesialis kecerdasan buatan, serta penyedia komputasi awan. Inisiatif ini diarahkan untuk mengembangkan pusat data di orbit yang menggunakan energi solar, memungkinkan pengurangan beban pada jaringan listrik di darat. Rencana jangka panjang mencakup pemanfaatan sumber daya terbarukan yang dapat mendukung pertumbuhan infrastruktur digital di Tiongkok, yang merupakan komponen kunci dalam persaingan dengan Amerika Serikat dalam industri luar angkasa.Namun, meskipun ambisi besar ini mendorong perkembangan teknologi di Songjiang, ada tantangan yang harus dihadapi. Meskipun SpaceSail telah meluncurkan 238 satelit dengan target untuk memperluas penetrasi pasar internet, masih ada keraguan mengenai kapabilitas teknologi dan kapasitas infrastruktur yang bisa bersaing dengan keberhasilan Starlink, yang sudah memiliki lebih dari 10 juta pelanggan. Ketersediaan investasi yang cukup dalam pembangunan fasilitas ini akan menjadi kunci. Selain itu, masalah regulasi dan kerjasama internasional bisa memengaruhi kemampuan Songjiang untuk beroperasi pada skala yang diharapkan.Investasi dalam pusat komputasi satelit ini akan berimbas pada peluang baru bagi para profesional muda dan mahasiswa di Indonesia yang tertarik dalam bidang teknologi dan luar angkasa. Dengan kemajuan teknologi dalam pemrosesan data orbit dan inisiatif Tiongkok untuk menyaingi layanan internet berbasis satelit, para lulusan dengan keterampilan di bidang kecerdasan buatan, teknik aerospace, dan teknologi informasi bisa menemukan banyak peluang pekerjaan yang berkembang. Salah satunya, persaingan kompetitif ini juga membuka jalan bagi perusahaan-perusahaan baru di Indonesia untuk menjajaki kolaborasi, terutama di bidang teknologi informasi dan telekomunikasi.
Komputasi satelit adalah konsep di mana satelit dapat menganalisis dan memproses data langsung di orbit. Ini mengurangi kebutuhan untuk mengirimkan data yang besar kembali ke bumi, sehingga mempercepat pengambilan keputusan dan analisis informasi. Dengan adanya kemampuan ini, satelit menjadi lebih efisien dan dapat memberikan intelijen real-time, yang sangat berharga dalam situasi darurat atau pengambilan keputusan yang cepat.
Secara keseluruhan, perkembangan ini menunjukkan bahwa industri ruang angkasa Tiongkok sedang bergerak cepat, dan Indonesia juga perlu mendorong inovasi serta investasi dalam teknologi serupa. Pertumbuhan sektor komputasi satelit ini dapat menjadi peluang baik bagi generasi muda di Indonesia untuk berpartisipasi dan mungkin menjadikan negara ini sebagai pemain dalam arena global. Meskipun saat ini belum ada angka spesifik mengenai kontribusi langsung terhadap perekonomian Indonesia, aksi ini dapat dijadikan langkah penting untuk memperkuat posisi Indonesia di industri teknologi di masa depan.