TLDR
Perubahan iklim berkontribusi terhadap meningkatnya frekuensi bencana banjir bandang di wilayah Himalaya. Investasi dalam sistem deteksi dini sangat penting untuk melindungi masyarakat di daerah rawan bencana. Kesiapsiagaan dan kesadaran tentang risiko bencana perlu ditingkatkan, terutama di wilayah yang rentan terhadap perubahan iklim. Pomodo.id - Runtuhnya gletser di Nepal baru-baru ini menyebabkan terjadinya banjir bandang yang mematikan, mengakibatkan lebih dari 350 orang tewas dan lebih dari 1.000 orang hilang. Fenomena ini terjadi akibat longsor yang disebabkan oleh kehancuran gletser, yang memicu aliran besar dari batu, lumpur, dan air ke desa-desa di sepanjang perbatasan Nepal dan Tibet. Di wilayah Rasuwa, Nepal, yang berbatasan dengan Tibet, gejala ini juga dideteksi sebagai aktivitas seismik yang mirip dengan gempa bumi, menunjukkan dampak serius dari peristiwa tersebut.Sangat penting untuk memahami bahwa pemanasan global berkontribusi pada kelapukan gletser dan permafrost, yaitu tanah dan batu yang membeku di Himalaya. Para ilmuwan mengindikasikan bahwa kenaikan suhu iklim di kawasan Himalaya, yang terletak di Asia Selatan, terjadi dengan kecepatan hampir dua kali lipat dari rata-rata global. Penelitian menunjukkan bahwa laju pemanasan ini merupakan ancaman bagi pasokan air, mata pencaharian, dan ekosistem, sehingga meningkatkan risiko bencana alam.
Gletser adalah formasi es besar yang dapat diperoleh di kayana tinggi, seperti Himalaya, sementara permafrost adalah tanah yang tetap beku lebih dari dua tahun. Gletser dan permafrost sangat terkait dengan iklim; saat iklim menghangat, mereka mulai mencair dan dapat menyebabkan bencana seperti banjir bandang. Kehancuran gletser bisa menciptakan ketidakstabilan pada lereng dan meningkatkan risiko longsor. Pemahaman tentang gletser dan permafrost mencakup bagaimana mereka berfungsi sebagai penyimpan air; hilangnya keduanya dapat berdampak besar bagi komunitas yang bergantung padanya.
Meskipun ada penjelasan mengenai hubungan antara pemanasan global dan fenomena ini, proses yang persis memicu kehancuran gletser tersebut masih belum sepenuhnya dipahami. Komunitas ilmiah mengecam bahwa pentingnya penelitian lebih lanjut untuk mengkaji dampak pemanasan global terhadap kejadian serupa di masa depan adalah suatu keharusan. Namun, satu hal yang jelas adalah bahwa bencana seperti ini kemungkinan akan terjadi semakin sering, terutama di wilayah yang rentan.Bagi generasi muda di Indonesia, situasi ini membawa implikasi yang signifikan untuk masa depan. Kesiapan untuk adanya risiko akibat perubahan iklim sangatlah penting. Mengingat Indonesia memiliki banyak wilayah beriklim tropis yang juga menghadapi tantangan serupa terkait dengan perubahan iklim, ini menjadi pengingat penting bahwa individu dan masyarakat perlu peka terhadap kondisi lingkungan sekitar mereka. Komunitas yang ingin belajar lebih banyak tentang perubahan iklim dan dampaknya pada lingkungan bisa mengambil kesempatan dari berbagai program pendidikan yang berkembang dalam mengenai perubahan iklim dan pengelolaan bencana.Dengan demikian, peristiwa ini tidak hanya menjadi pelajaran bagi Nepal, tetapi juga bagi Indonesia dan negara-negara lain yang rentan terhadap bencana alam. Kehadiran kesadaran akan risiko ini seharusnya mendorong individu untuk mempelajari lebih dalam tentang manajemen risiko bencana serta meteorologi, serta mempersiapkan diri dalam mengembangkan ketahanan kuliah, lingkungan kerja dan pembangunan berkelanjutan untuk menghadapinya.