TLDR
Sistem FALCON memungkinkan spacecraft untuk menentukan posisinya di orbit tanpa bergantung pada GPS. Misi Starling berhasil meningkatkan akurasi orbit lebih dari 200 objek luar angkasa secara otonom. Teknologi ini berpotensi mendukung misi eksplorasi manusia di bulan dan Mars dengan mengurangi ketergantungan pada sistem navigasi berbasis Bumi. Pomodo.id - Dalam inovasi terbaru di bidang teknologi luar angkasa, NASA's Starling telah memperkenalkan sistem navigasi yang revolusioner, bernama FALCON. Sistem ini memungkinkan pesawat luar angkasa untuk menentukan posisinya di orbit tanpa bergantung pada GPS. Sebaliknya, FALCON memanfaatkan kamera yang telah terpasang pada pesawat untuk mengidentifikasi objek lain di orbit, seperti satelit dan puing-puing luar angkasa. Data dari objek yang terdeteksi ini kemudian dibandingkan dengan katalog satelit dan puing yang sudah ada, untuk mengestimasikan posisi Starling dengan akurat.FALCON merupakan hasil kerja sama antara NASA dan EraDrive, sebuah startup yang berasal dari Stanford University. Sistem ini menggabungkan perangkat lunak penerbangan Era-Core milik EraDrive dengan kamera Starling dan katalog objek luar angkasa. Dengan katalog yang memuat sekitar 20.000 objek, sistem ini mampu memberikan navigasi dan pelacakan tanpa memerlukan jaringan navigasi tradisional seperti GPS, yang tidak dirancang untuk kondisi luar angkasa lebih jauh dari Bumi, seperti di sekitar Bulan.Namun, terdapat tantangan dalam teknologi ini. Seiring dengan pengembangan sistem baru, ada potensi kendala dalam hal ketergantungan pada akurasi katalog objek luar angkasa saat objek tersebut berkembang atau ketika ada penambahan objek baru dalam orbit. Selain itu, sistem ini lebih fokus pada pesawat luar angkasa yang berada di orbit dan belum tentu dapat diterapkan dengan segera untuk penggunaan sehari-hari di Bumi.
FALCON adalah sistem navigasi satelit otonom yang memanfaatkan pengenalan objek untuk menentukan lokasi pesawat di luar angkasa. Ini adalah terobosan penting dalam teknologi navigasi, berpotensi menggantikan ketergantungan pada GPS yang selama ini menjadi standar. Pengenalan objek memungkinkan pesawat untuk menjelajahi daerah yang lebih jauh, seperti Misi Bulan dan eksplorasi planet lainnya tanpa kehilangan orientasi.
Bagi generasi muda Indonesia, perkembangan ini membawa dampak signifikan dalam karier dan kesempatan kerja di sektor teknologi luar angkasa dan industri terkait. Negara ini semakin memperhatikan teknologi dan inovasi, membuka peluang untuk anak muda yang tertarik dalam bidang ilmu pengetahuan, teknik, dan teknologi. Dengan berkembangnya industri ini, pasar kerja akan membutuhkan lebih banyak individu terampil di bidang pengembangan perangkat lunak, teknologi sensor, dan analisis data luar angkasa.Ketika industri teknologi luar angkasa global mengalami pertumbuhan, adanya penelitian dan pengembangan seperti ini juga dapat menginspirasi start-up dan perusahaan Indonesia untuk mengembangkan teknologi serupa. Kendati saat ini Indonesia belum memiliki sistem navigasi luar angkasa mandiri, kemajuan dalam teknologi seperti FALCON bisa menjadi inspirasi untuk membangun infrastruktur yang mendukung explorasi luar angkasa.Dalam konteks ekonomi, investasi dalam kapasitas teknologi luar angkasa tidak hanya memberikan manfaat bagi perusahaan yang menggarap sektor ini, tetapi juga pada perkembangan teknologi dalam negeri dan daya saing Indonesia di pasar internasional. Jika Indonesia mampu mengembangkan sistem navigasi yang lebih efisien dan mandiri, hal ini tidak hanya berdampak pada sektor luar angkasa, tetapi juga industri terkait lainnya, termasuk telekomunikasi dan teknologi informasi.