TLDR
Penelitian di Lithuania berhasil meningkatkan efisiensi sel surya perovskite menjadi lebih dari 29 persen. Modifikasi lapisan molekuler yang mentransfer pengisi muatan positif meningkatkan stabilitas dan kinerja sel surya. Teknologi baru ini berpotensi digunakan untuk perangkat solar yang lebih fleksibel, seperti yang diterapkan pada fasad bangunan dan tekstil. Pomodo.id - Para peneliti di Universitas Teknologi Kaunas (Kaunas University of Technology) bersama mitra internasionalnya telah berhasil meningkatkan efisiensi sel surya tandem perovskite hingga lebih dari 29 persen. Inovasi ini dicapai dengan memodifikasi lapisan molekul ultra tipis yang berfungsi untuk mentransfer pembawa muatan positif di dalam perangkat. Dengan menciptakan antarmuka yang lebih stabil antara berbagai lapisan sel surya, korosi yang biasanya ditemukan berkurang, sehingga memungkinkan sel-sel tersebut untuk mempertahankan efisiensi dan performa yang lebih tinggi.Kasparas Rakštys, PhD, seorang peneliti dari KTU, menekankan pentingnya interkoneksi yang sempurna antara lapisan-lapisan tersebut agar perangkat dapat berfungsi secara efisien. Definisi sederhananya, sel surya dapat dibayangkan sebagai sandwich berlapis-lapis di mana tiap lapisan terbuat dari bahan yang berbeda dan memiliki fungsi tertentu. Solusi yang ditemukan melibatkan pengubahan kelompok molekul yang bertanggung jawab untuk berikatan dengan lapisan oksida logam. Alih-alih menggunakan bentuk asam konvensional, mereka mengubahnya menjadi garam ionik. Dengan metode baru ini, sel surya tandem perovskite mencapai efisiensi konversi daya lebih dari 29 persen.
Sel surya perovskite adalah perangkat fotovoltaik tipis yang mengandalkan bahan perovskite sebagai lapisan aktifnya. Mereka dianggap sebagai teknologi energi yang menjanjikan karena bobotnya yang ringan, fleksibel, dan cukup murah untuk diproduksi. Namun, performa mereka dapat menurun ketika terpapar kelembapan, oksigen, dan panas. Kelemahan ini menjadi tantangan dalam pengembangan dan penerapan teknologi ini secara luas.
Meski inovasi ini menjanjikan, masih ada beberapa tantangan yang menghambat adopsi luas sel surya perovskite. Salah satu masalah utama adalah ketahanan dan stabilitasnya saat terpapar kondisi lingkungan yang ekstrem. Sel-sel ini membutuhkan perlindungan tambahan agar tidak terpengaruh oleh faktor eksternal yang dapat menyebabkan kebocoran daya atau korosi. Oleh karena itu, sementara peningkatan efisiensi memberikan harapan baru, pengembangan lebih lanjut diperlukan untuk menghadapi keterbatasan ini.Pengembangan semacam ini memiliki implikasi yang signifikan untuk masa depan energi terbarukan, terutama dalam konteks transisi menuju sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Dengan efisiensi yang lebih tinggi, sel surya perovskite dapat diintegrasikan lebih baik dalam sistem energi yang ada, membantu mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil. Hal ini juga dapat mengarah pada pengurangan biaya produksi energi, memberikan dorongan bagi industri energi terbarukan, dan meningkatkan aksesibilitas energi bersih di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.