TLDR
Permintaan untuk chip node matang meningkat tajam karena lonjakan infrastruktur AI. SMIC berencana untuk menambah peralatan di pabriknya untuk memenuhi permintaan yang lebih tinggi. Ketersediaan produk BCD untuk manajemen daya terlihat hingga akhir 2027. Pomodo.id - Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC) menghadapi tantangan signifikan terkait kekurangan chip pendukung untuk aplikasi kecerdasan buatan (AI) seiring permintaan global yang melampaui ekspektasi. Perusahaan chip terbesar di Tiongkok ini, yang berfungsi sebagai kontraktor chip terbesar di negara tersebut, melaporkan bahwa permintaan untuk chip-node matang, yang digunakan bersamaan dengan prosesor AI, meningkat pesat. Ini menjadi tantangan karena permintaan untuk chip pendukung di server AI dan pusat data terus meningkat, dengan beberapa produk termasuk chip logika, produk manajemen daya, dan komponen modul optik, diperkirakan akan bertahan hingga akhir 2027.Sebagai indikasi dari lonjakan permintaan, SMIC mencatat peningkatan signifikan dalam pesanan dari perkiraannya di awal tahun. Co-CEO SMIC, Zhao Haijun, menyatakan saat panggilan earnings bahwa "awal wafer di masa depan jauh melampaui ekspektasi sebelumnya," yang menunjukkan volume batch chip baru yang masuk ke jalur produksi. Akibat dari situasi ini, SMIC sedang menyesuaikan rencana ekspansinya dan mempertimbangkan untuk menambahkan peralatan di lokasi yang ada, di mana ruang memungkinkan.Berdasarkan laporan kinerja kuartal kedua, SMIC mencatat keuntungan bersih sebesar US$479,2 juta, melonjak 261,7 persen dibandingkan tahun lalu. Total pendapatan untuk kuartal tersebut mencapai US$3 miliar, menunjukkan pertumbuhan 36 persen dari tahun ke tahun, sejalan dengan permintaan yang meningkat untuk chip AI domestik. Ini menunjukkan bahwa pabrik-pabrik chip lokal di Tiongkok, seperti SMIC, bekerja dengan kapasitas penuh untuk memenuhi kebutuhan domestik, mengingat para raksasa teknologi dan startup berjuang untuk mendapatkan daya komputasi yang dibutuhkan untuk melatih model AI besar.
Chip pendukung AI adalah komponen penting yang digunakan dalam infrastruktur kecerdasan buatan, termasuk chip logika dan produk manajemen daya. Chip ini membantu menjalankan aplikasi AI yang kompleks dan mengelola konsumsi daya di pusat data. Permintaan akan chip ini meningkat seiring dengan lonjakan penggunaan teknologi AI dalam berbagai sektor. Tanpa chip pendukung ini, performa aplikasi AI dapat terganggu, sehingga menghambat inovasi dan pengembangan lebih lanjut di industri.
Namun, SMIC tidak berada tanpa tantangan. Meski meraih keuntungan signifikan, perusahaan harus mengatasi kekurangan yang muncul akibat lonjakan permintaan ini. Pihak manajemen mengindikasikan bahwa mereka beroperasi hampir pada kapasitas maksimal, membuat mereka menghadapi tantangan dalam memenuhi semua pesanan baru. Kekurangan ini menciptakan ketegangan dalam pasar, di mana chip pendukung menjadi semakin sulit didapat, berpotensi memperlambat laju inovasi dalam sektor AI.Ke depan, tren ini menunjukkan bahwa permintaan untuk chip pendukung AI kemungkinan akan terus meningkat hingga 2027. Dengan semakin banyak perusahaan yang berinvestasi dalam teknologi kecerdasan buatan, SMIC harus segera merespons dengan efisiensi yang lebih baik dalam produksinya untuk memenuhi ekspektasi pasar. Jika perusahaan mampu beradaptasi dan memenuhi lonjakan permintaan ini, mereka tidak hanya berpotensi untuk memperkuat posisi mereka di dalam negeri, tetapi juga menargetkan pangsa pasar di tingkat global.Inisiatif ini juga menandakan sebuah peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkan perkembangan teknologi ini sebagai bagian dari upaya adopsi AI yang lebih luas, terutama dalam sektor industri yang kini tengah berkembang. Menyadari adanya kebutuhan mendesak akan chip pendukung, Indonesia dapat belajar dari pengalaman SMIC untuk memperkuat kapasitas produksi dalam negeri dan mengatasi tantangan ketergantungan teknologi.