TLDR
Sistem kesehatan mental sering gagal memberikan dukungan yang diperlukan bagi ibu yang mencari bantuan. Diagnosis yang tepat memerlukan waktu dan evaluasi mendalam, bukan sekedar kunjungan singkat. Stigma dan kurangnya pelatihan untuk penyedia layanan kesehatan dapat menghambat akses ke perawatan kesehatan mental yang diperlukan. Pomodo.id - Mengapa sistem kesehatan mental ibu pascapersalinan sering gagal membantu banyak ibu di Amerika Serikat. Kasus Lindsay Clancy, seorang ibu yang didakwa melakukan infanticide pada Januari 2023, menyoroti tantangan besar yang dihadapi oleh mereka yang mencari bantuan untuk masalah kesehatan mental. Meskipun ada upaya untuk mendukung kesehatan mental ibu, sistem kesehatan sering tidak mampu memberikan dukungan yang tepat saat ibu paling membutuhkannya.Dokter Patricia De Marco Centeno, seorang psikiater terdaftar, menjelaskan bahwa banyak pasien dengan masalah kesehatan mental tidak pernah bertemu dengan psikiater. Dalam situasi kritis, seperti saat tanda-tanda peringatan muncul, sering kali yang hadir adalah dokter darurat, bidan, atau konsultan laktasi — bukan psikiater. Hal ini diakibatkan oleh kurangnya jumlah psikiater yang tersedia dan banyaknya psikiater yang tidak bekerja dengan sistem asuransi yang digunakan oleh rumah sakit. Dalam praktiknya, rumah sakit lebih mengandalkan tim evaluasi psikiatris yang hanya bertugas menentukan apakah pasien memenuhi syarat untuk komitmen paksa, daripada mendiagnosis atau merawat kondisi kesehatan mental secara komprehensif.Psikosis postpartum, yang merupakan keadaan darurat psikiatrik langka, juga sering disalahpahami. Diagnosis yang tepat dari keadaan seperti ini sangat penting. Clancy, misalnya, diduga mengalami psikosis postpartum, yang berbeda dari depresi postpartum biasa, di mana ketidakpahaman tentang kondisi ini dapat berakibat fatal. Masyarakat, termasuk profesional kesehatan, sering kali bingung tentang perbedaan antara psikosis postpartum dan kondisi lain yang terkait dengan kehamilan. Ketidakjelasan ini dapat berakibat pada dampak serius bagi ibu dan anak.
Psikosis postpartum adalah gangguan mental yang muncul setelah melahirkan dan merupakan keadaan darurat yang membutuhkan perhatian medis segera. Berbeda dengan depresi postpartum yang lebih umum, psikosis ini bisa menimbulkan pikiran negatif yang ekstrem dan perilaku berbahaya. Pemahaman yang lebih baik tentang kondisi ini penting untuk menepis anggapan bahwa semua masalah kesehatan mental pascapersalinan serupa. Kesadaran yang tepat tentang psikosis postpartum dapat menyelamatkan nyawa dan mencegah tragedi.
Hasil dari sistem kesehatan yang gagal mendesak perlunya perbaikan dalam cara bantuan kesehatan mental diberikan kepada ibu pascapersalinan. Penurunan pelayanan kesehatan, termasuk psikolog dan psikiater, berdampak langsung pada ibu yang paling membutuhkan dukungan. Dalam banyak kasus, rujukan kesehatan mental nampak diabaikan, yang dapat meningkatkan risiko bagi kesehatan ibu pascapersalinan.Ke depan, penanganan kesehatan mental ibu pascapersalinan harus lebih komprehensif dan terintegrasi. Dalam konteks Indonesia, peningkatan pendidikan di bidang kesehatan mental, termasuk tentang psikosis postpartum, dapat membantu mengurangi stigma dan meningkatkan dukungan bagi ibu yang membutuhkan perlindungan dan perawatan mental yang tepat. Jika tidak, pandemi kesehatan mental di kalangan ibu dan bayi dapat terus berlanjut, dengan konsekuensi yang parah baik bagi kesehatan individu maupun masyarakat secara keseluruhan.