TLDR
Produksi energi terbarukan di China meningkat, dengan panel surya diperkirakan akan menjadi sumber utama listrik pada kuartal ketiga tahun ini. Meskipun ada pertumbuhan dalam energi terbarukan, ketergantungan pada batubara masih akan bertahan dalam beberapa tahun ke depan. Permintaan listrik global diperkirakan akan meningkat secara signifikan, didorong oleh kebutuhan untuk pusat data AI dan kendaraan listrik. Pomodo.id - China, sebagai pemimpin global dalam teknologi energi bersih, saat ini mengalami transisi besar dalam sistem energinya, secara bertahap menggeser ketergantungan pada batu bara. Pada enam bulan pertama tahun ini, batu bara hanya memproduksi 49,7% dari total energi yang dihasilkan negara tersebut, menandai angka di bawah 50% untuk pertama kalinya dalam sejarah baru-baru ini. Dengan percepatan dalam produksi dan pemasangan energi terbarukan, terutama tenaga surya, dalam waktu dekat, diharapkan energi surya akan menjadi sumber energi utama di Tiongkok, mungkin pada kuartal ketiga tahun ini. Hal ini adalah pencapaian signifikan, mengingat China masih memiliki ketergantungan besar terhadap sumber energi fosil.Berdasarkan proyeksi dari Dewan Listrik China, kapasitas tenaga surya diperkirakan akan mencapai 4.300 gigawatt pada akhir tahun, sehingga mengungguli batu bara sebagai penyedia utama listrik. Meskipun demikian, ketergantungan Tiongkok pada batu bara tidak akan hilang dalam waktu singkat. Permintaan listrik di Tiongkok terus meningkat, didorong oleh pembangunan pusat data AI dan peningkatan penggunaan kendaraan listrik (EV) oleh para konsumen. Bahkan dengan semakin banyaknya energi surya dan angin yang ditambahkan ke jaringan, penggunaan total batu bara mungkin tetap meningkat dalam beberapa tahun ke depan, meskipun akan tersalip oleh energi terbarukan. Dalam rencana pemerintah Tiongkok, penggunaan batu bara ditargetkan untuk mencapai puncaknya paling lambat tahun 2030 dan mulai berkurang setelah itu.
Energi terbarukan adalah energi yang dihasilkan dari sumber yang dapat diperbarui, seperti matahari, angin, dan air. Sistem ini penting dalam menciptakan sistem energi yang berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, yang berkontribusi besar terhadap emisi karbon. Saat ini, fokus pada energi terbarukan semakin meningkat di seluruh dunia, termasuk di Tiongkok, untuk mencapai tujuan keberlanjutan global. Banyak yang beranggapan bahwa energi terbarukan tidak mampu memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat, namun dengan inovasi dan investasi yang tepat, energi terbarukan diharapkan dapat menyediakan pasokan yang memadai.
Meskipun pertumbuhan dalam sektor energi terbarukan cukup menggembirakan, ada tantangan yang harus dihadapi. Selama transisi ini, ketergantungan pada teknologi lama dan infrastruktur yang ada mungkin menghambat kecepatan adopsi energi bersih. Kolaborasi antara sektor publik dan swasta sangat penting agar proyek-proyek energi terbarukan dapat diimplementasikan secara efektif. Menanggapi tantangan dalam sistem listrik, Tiongkok harus berusaha agar jaringan listriknya mampu mengakomodasi peningkatan kapasitas dari energi terbarukan sembari tetap mempertahankan pasokan listrik yang stabil.Melihat ke depan, transisi ini menyiratkan bahwa negara yang memiliki potensi energi terbarukan sebanding dengan Tiongkok, termasuk Indonesia, dapat belajar dari langkah-langkah kebijakan dan investasi yang diambil oleh Tiongkok. Memperhatikan pertumbuhan industri energi terbarukan di Tiongkok dapat menjadi acuan bagi Indonesia dalam pengembangan sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.