TLDR
Penelitian menunjukkan bahwa protein eMTBR-tau243 dapat membantu diagnosis CTE pada hidup. CTE saat ini hanya dapat didiagnosis setelah kematian, sehingga penemuan ini memberikan harapan untuk diagnosis yang lebih awal. Penting untuk mengembangkan biomarker yang divalidasi untuk melengkapi diagnosis klinis CTE. Pomodo.id - Peningkatan kadar protein terkait Alzheimer di otak dapat memberikan tanda awal untuk mendiagnosis kondisi otak yang disebut encephalopathy traumatik kronis (CTE). Kondisi ini berhubungan dengan trauma kepala yang berulang dan saat ini hanya bisa teridentifikasi melalui otopsi. Namun, data awal menunjukkan bahwa pengukuran protein eMTBR-tau243 yang terkait dengan Alzheimer mungkin bisa membawa tes ini ke dalam konteks klinis, memungkinkan diagnosis pada pasien yang masih hidup. Penemuan ini dilaporkan pada 15 Juli di Konferensi Internasional Asosiasi Alzheimer.Data ini menunjukkan bahwa pada kasus CTE yang terkonfirmasi, kadar protein eMTBR-tau243 meningkat seiring dengan kemajuan penyakit pada saat kematian. Menurut Chihiro Sato, seorang ilmuwan saraf dari Washington University di St. Louis, hasil ini menawarkan potensi untuk mendiagnosis CTE lebih awal di dalam hidup pasien. Meskipun data ini perlu divalidasi lebih jauh dengan dataset yang lebih besar, adanya kemungkinan ini akan sangat berharga bagi pasien dalam memahami kondisi kesehatan mereka dan memungkinkan mereka untuk berpartisipasi dalam uji coba pengobatan CTE di masa depan.Meskipun temuan ini menjanjikan, kita harus menyadari bahwa mendiagnosis CTE dengan cara yang sama seperti yang dilakukan untuk Alzheimer masih dalam tahap awal. Pengujian saat ini memerlukan pemeriksaan otak yang cermat setelah kematian, yang telah menyulitkan upaya untuk mengidentifikasi seberapa banyak orang yang terkena dan mengukur prevalensinya. Sebuah studi tahun 2018 menemukan bahwa kerusakan mirip CTE mempengaruhi 1 dari 164 otak yang disumbangkan. Hal ini menyoroti tantangan besar di dalam penelitian dan pemahaman tentang kondisi ini.Potensi untuk mendiagnosis CTE saat seseorang masih hidup bisa menjadi langkah penting ke depan. Ini tidak hanya akan memberikan kejelasan kepada pasien tentang kesejahteraan mereka tetapi juga mendorong keterlibatan mereka dalam penelitian dan pengembangan terapi yang lebih baik untuk CTE. Pada gilirannya, hal ini dapat mempercepat penanganan dan perawatan kondisi tersebut, yang sangat dibutuhkan mengingat dampak kesehatannya yang kompleks.
Protein eMTBR-tau243 merupakan biomarker yang terkait dengan Alzheimer. Ia berperan penting dalam mendeteksi kerusakan saraf di otak. Salah satu kesalahpahaman umum adalah bahwa protein ini hanya relevan untuk Alzheimer, padahal temuan terbaru menunjukkan bahwa kadar protein ini juga dapat memberikan indikasi awal mengenai CTE, sehingga penting untuk memahami perannya dalam berbagai kondisi neurologis.
Dengan berkembangnya teknologi dan penelitian ini, sangat penting bagi komunitas medis dan peneliti untuk mengembangkan pendekatan yang lebih baik dalam mengevaluasi kondisi otak seperti CTE. Penelitian lebih lanjut dan percobaan klinis adalah kunci untuk menerapkan informasi yang didapat dari penelitian ini ke dalam praktik klinis sehari-hari. Jika efektif, metode ini dapat merevolusi cara kita mendeteksi dan mengobati kondisi yang Berkaitan dengan trauma kepala, tidak hanya di Amerika Serikat tetapi juga dan menarik perhatian di seluruh dunia, termasuk Indonesia.