TLDR
Kapal selam Perm akan menjadi kapal selam pertama yang dibangun khusus untuk meluncurkan misil hipersonik Zircon. Program Poseidon mendekati kesiapan operasional, menunjukkan upaya Rusia untuk memperkuat daya tangkal nuklirnya. Rusia terus memodernisasi armada kapal selamnya meskipun merayakan Hari Angkatan Laut dengan skala yang lebih kecil karena masalah keamanan. Pomodo.id - Kapal Selam Perm akan menjadi kapal selam pertama yang dirancang khusus untuk meluncurkan misil hipersonik 3M22 Zircon, yang diperkirakan akan mulai beroperasi sebelum akhir tahun 2026. Pengumuman ini disampaikan pada acara Hari Angkatan Laut Rusia, di mana pihak berwenang juga mengungkap bahwa kendaraan bawah air tanpa awak Poseidon mendekati kesiapan operasional. Perkembangan ini menunjukkan investasi berkelanjutan Moskow dalam kemampuan peperangan bawah laut yang canggih meskipun menghadapi pembatasan dalam perayaan Hari Angkatan Laut tahun ini terkait dengan kekhawatiran keamanan yang muncul akibat konflik yang sedang berlangsung di Ukraina.Kapal selam Perm adalah salah satu yang terbaru dalam kelas Yasen-M (Proyek 885M), yang merupakan tulang punggung armada kapal selam nuklir multipurpose generasi mendatang Rusia. Komandan Angkatan Laut Rusia, Laksamana Alexander Moiseyev, menegaskan bahwa kapal selam ini akan dilengkapi dengan sistem senjata Zircon yang diintegrasikan sejak awal desainnya, bukan ditambahkan setelah konstruksi. Selain itu, kapal selam Yasen-M dapat mengangkut hingga 32 misil jelajah, menunjukkan potensi angkatan tempurnya yang signifikan.Poseidon, di sisi lain, merupakan kendaraan bawah air tak berawak yang dirancang untuk aplikasi militer strategis. Ini merupakan bagian dari upaya Rusia untuk meningkatkan kemampuan peperangan bawah lautnya. Meskipun detail spesifik tentang penggunaan Poseidon masih dalam tahap pengembangan, informasi terbaru menunjukkan bahwa Rusia aktif dalam mengejar teknologi militer yang inovatif dan mampu bertahan dalam konfrontasi global.Namun, ada tantangan yang dihadapi Rusia dalam pengembangan sistem senjata ini. Meskipun kemajuan yang telah dicapai, baik kapal selam Perm maupun Poseidon tidak terlepas dari risiko yang terkait dengan kewajiban anggaran dan pengawasan internasional yang lebih ketat. Selain itu, respons internasional terhadap kebangkitan kemampuan militer Rusia, khususnya di bawah air, dapat memprovokasi peningkatan militer serupa dari negara-negara lain, termasuk negara-negara NATO yang agresif dalam merespons potensi ancaman.Perkembangan ini menyiratkan bahwa Rusia akan terus memperkuat kemampuan militer bawah lautnya di masa mendatang. Jika Perm dan Poseidon berhasil memasuki layanan operasional dan menunjukkan efektivitas di lapangan, hal ini dapat merubah dinamika kekuatan di wilayah perairan strategis, terutama di Laut Hitam dan Laut Arktik. Dengan menghadirkan teknologi seperti misil hipersonik Zircon dan kendaraan bawah air tak berawak, Rusia mungkin dapat meningkatkan daya tawar militernya dalam arena geopolitik yang semakin kompetitif. Penguatan ini juga mengisyaratkan bahwa negara-negara lain mungkin perlu mempertimbangkan kembali strategi pertahanan mereka dan mengevaluasi potensi pembalasan terhadap pengembangan militer Rusia.
Zircon Hypersonic Missile
Zircon adalah misil hipersonik yang dikembangkan oleh Rusia, dirancang untuk serangan cepat terhadap target darat dan laut. Keunggulan dari misil ini adalah kemampuannya untuk terbang dengan kecepatan di atas 5 Mach, yang membuatnya sulit untuk dicegat oleh sistem pertahanan udara yang ada. Dengan jangkauan yang menjanjikan dan kecepatan tinggi, Zircon berpotensi menjadi salah satu alat utama dalam strategi militer Rusia. Peningkatan akurasi dan efektivitas operasional dari sistem senjata ini sangat penting dalam konteks ketegangan geopolitik saat ini, di mana kecepatan dan ketepatan merupakan kunci dalam pertempuran modern.