Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Pasar Crypto Turun Karena Tekanan Global Dan Ketegangan Timur Tengah

Finansial
Mata Uang Kripto
News Publisher
17 Jul 2026
117 dibaca
3 menit
Pasar Crypto Turun Karena Tekanan Global Dan Ketegangan Timur Tengah

TLDR

Pasar crypto mengalami penurunan bersamaan dengan pasar saham global akibat tekanan makroekonomi.
Tensi yang meningkat di Timur Tengah berkontribusi terhadap ketidakpastian pasar.
Indeks kekuatan relatif (RSI) di pasar crypto mendekati kondisi jenuh jual, yang mungkin menandakan potensi pemulihan.
Pasar Crypto Turun Karena Tekanan Global dan Ketegangan Timur TengahPasar cryptocurrency mengalami penurunan signifikan baru-baru ini, dipicu oleh ketegangan yang meningkat di Timur Tengah dan dampak dari penjualan saham teknologi di seluruh dunia. Bitcoin, misalnya, diperdagangkan pada harga BTC$63,136.85 setelah jatuh di bawah $63,000, mengalami penurunan sekitar 1,2% dari tengah malam UTC. Ether (ETH) juga mengalami kerugian sebesar 1,74%, sementara total kapitalisasi pasar cryptocurrency menyusut 1,86%, sehingga hanya tersisa $2,16 triliun.Penurunan ini tidak hanya terfokus pada pasar crypto, tetapi juga turut mempengaruhi indeks saham besar global. Future Nasdaq 100 serta S&P 500 mengalami penurunan masing-masing sebesar 1,91% dan 0,96%. Di Asia, indeks Nikkei 225 Jepang turun 4%, sedangkan pasar saham Kospi di Korea Selatan ditutup sehubungan dengan hari libur. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan makroekonomi, bukan hanya peristiwa di pasar crypto itu sendiri, yang menjadi pendorong pergerakan ini. Selain itu, Dollar Index (DXY) juga naik ke 100,75, dan harga emas meningkat 0,61% kembali di atas $4.000. Semua indikasi ini menunjukkan adanya rotasi risiko di pasar.Dari sisi sentimen pasar, banyak investor mulai keluar dari aset berisiko menjelang akhir pekan, dan penurunan ini mencerminkan kecemasan yang terkena dampak ketegangan geopolitik. Terdapat ketegangan yang meningkat antara Iran dan Amerika Serikat terkait kendali atas Selat Hormuz, dengan kedua negara saling melakukan serangan udara. Patrick Munnelly dari Tickmill Group mengatakan bahwa pasar menghadapi dua tantangan besar: kelelahan terhadap kecerdasan buatan (AI) dan ketegangan akibat situasi Hormuz.Namun, terdapat faktor yang mungkin positif menuju akhir pekan ini, meskipun ada penurunan, karena indikator kekuatan relatif rata-rata (RSI) di pasar crypto saat ini telah turun ke 42,23, mendekati level jenuh jual. Ini sering kali bisa memicu pergerakan rebound yang signifikan. Misalnya, pada pertengahan bulan ini, Bitcoin mampu mencapai puncak harganya di $64,500 setelah menghadapi tekanan jual. Penurunan yang tajam di pasar altcoin, seperti Lighter (LIT) yang mengalami penurunan 8% dalam penjualan pertamanya, menunjukkan bagaimana penjualan profit telah menyebar ke berbagai aset berisiko.Meski begitu, penurunan harga ini tidak mencerminkan lompatan moral di dalam pasar crypto. Bitcoin sering kali menjadi indikator bagi keputusan investasi lain di pasar saham. Korelasi antara Bitcoin dan saham mirip dengan ketergantungan yang terlihat antara indeks Nasdaq 100 dan S&P 500, yang keduanya terpengaruh oleh sentimen investor dan ketegangan yang ada di pasar global. Dalam konteks inilah, saat kondisi pasar kembali pulih, investor mungkin mencari peluang untuk masuk kembali ke dalam aset-aset yang tertekan saat ini.Melihat ke depan, ini menunjukkan bahwa ketegangan yang ada di Timur Tengah dan dinamika pasar global lainnya akan terus memberikan dampak pada cryptocurrency dan indeks saham besar. Jika situasi ini berlanjut, investor harus waspada terhadap potensi untuk lebih banyak aksi ambil untung serta dampak dari pelaku pasar yang melakukan rotasi di antara aset berisiko.
Bitcoin
Bitcoin adalah mata uang kripto yang pertama dan paling dikenal di dunia, memungkinkan transaksi peer-to-peer tanpa perantara. Ini berfungsi di jaringan terdesentralisasi menggunakan teknologi blockchain. Kesalahpahaman umum adalah bahwa Bitcoin sepenuhnya aman dari fluktuasi pasar; padahal, seperti aset lainnya, nilai Bitcoin dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor pasar, termasuk kondisi ekonomi global dan ketegangan geopolitik.
Artikel ini disintesis dari 2 sumber.
Baca Berita Lebih Cepat,Lebih Cerdas
Rangkuman berita terkini yang dipersonalisasi untukmu — tanpa perlu baca panjang lebar.